oleh: Widhyanto Muttaqien
Tulisan ini merupakan percikan dari satu bab buku Denyut Nadi Bumi karya Adam Bobbette, Bagian 5: Geopuitika: Ilmu Kosmik dan Estetik Johannes Umbgrove
Sains sebagai Instrumen Kekuasaan
Selama berabad-abad, kolonialisme tidak hanya bekerja melalui penaklukan militer dan eksploitasi ekonomi, tetapi juga melalui penguasaan pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern, khususnya geologi, sering kali menjadi “garda terdepan” dalam memetakan kekayaan alam di wilayah jajahan guna memfasilitasi kepentingan imperium. Dalam konteks ini, karya-karya Johannes Herman Frederik Umbgrove, seorang profesor geologi di Delft, Belanda, berdiri sebagai monumen intelektual yang menarik untuk dikaji secara kritis. Melalui bukunya The Pulse of the Earth (1942) dan Symphony of the Earth (1950), Umbgrove mencoba merumuskan teori universal mengenai dinamika bumi. Namun, di balik narasi ilmiahnya yang elegan, tersimpan jejak “tatapan kolonial” (colonial gaze) yang menggunakan data dari wilayah jajahan, khususnya Hindia Belanda (sekarang Indonesia), untuk membangun supremasi teori Eropa.
Konteks Historis: Geologi dari “Metropole” ke “Periphery”
Umbgrove menulis karyanya pada masa transisi yang krusial. The Pulse of the Earth diterbitkan pada tahun 1942, tepat ketika kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia mulai runtuh di bawah pendudukan Jepang. Sementara itu, Symphony of the Earth hadir pada 1950, setahun setelah Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia. Posisi Umbgrove sebagai Profesor di Delft, pusat pendidikan teknik dan geologi bagi para insinyur kolonial yang menempatkannya pada posisi strategis dalam memproses data-data mentah yang dikumpulkan dari eksplorasi di Nusantara.
Sains kolonial sering kali memperlakukan wilayah jajahan sebagai “laboratorium raksasa”. Data mengenai gunung berapi di Sumatra, cekungan di Jawa, dan palung laut di Maluku bukanlah sekadar objek kajian netral, melainkan bagian dari proyek pemetaan sumber daya dan navigasi imperium. Dengan demikian, teks-teks ilmiah ini tidak bisa dipisahkan dari struktur kekuasaan yang memungkinkan data tersebut diperoleh.
The Pulse of the Earth (1942): Pencarian Ritme Universal di Tanah Jajahan
Dalam buku ini, Umbgrove mengajukan tesis mengenai “periodicity” atau keperiodikan dalam sejarah bumi. Ia berargumen bahwa peristiwa geologi seperti pembentukan gunung, perubahan permukaan laut, dan evolusi kehidupan terjadi dalam ritme yang teratur, sebuah “denyut” planet. Teori Umbgrove mengenai geosinklin dan busur kepulauan (island arcs) sangat bergantung pada data dari Hindia Belanda. Ia menggunakan pengamatan terhadap sungai-sungai yang tenggelam di Laut Jawa dan Laut Natuna (South China Sea) untuk memperkuat teorinya tentang perubahan permukaan laut. Di sini terlihat bagaimana wilayah “periphery” (jajahan) memberikan bukti fisik untuk membangun teori di “metropole” (Eropa). Membangun teori di metropole dalam kacamata Umbgrove dipandang sebagai tugas mulia ilmu pengetahuan modern untuk merapikan data yang berserakan menjadi sebuah narasi ilmiah yang logis dan harmonis (seperti sebuah simfoni).
Sains bertindak sebagai alat penaklukan intelektual. Dengan memberi nama, mengkategorikan, dan memetakan struktur bumi di Indonesia, para ilmuwan kolonial secara simbolis “memiliki” wilayah tersebut. Umbgrove membahas tentang “Andesite line” di Pasifik dan struktur pegunungan di Sumatra serta Jawa sebagai bagian dari sistem global yang dikontrol oleh hukum fisika Eropa.
Symphony of the Earth (1950): Estetika dan Hegemoni Narasi
Jika buku pertama berbicara tentang “denyut”, buku kedua menggunakan metafora musik yang lebih kompleks: “Symphony”. Umbgrove mencoba menyatukan berbagai fenomena bumi, mulai dari pembentukan pegunungan Alpen hingga gunung berapi di Sumatra ke dalam satu harmoni ilmiah.
Penggunaan istilah “Symphony” memberikan kesan keindahan dan harmoni pada proses alam. Namun, dalam perspektif post-kolonial, estetisasi sains ini sering kali mengaburkan realitas ekstraktif di baliknya. Ketika Umbgrove membahas “parit-parit dalam” (deep furrows) di Hindia Belanda dan Burma, ia melihatnya sebagai bagian dari keindahan struktur bumi, sementara bagi penduduk lokal, wilayah tersebut adalah tanah air yang sedang dieksploitasi sumber daya mineralnya oleh kekuasaan kolonial. Dalam bab “A country below sea-level”, Umbgrove membandingkan kondisi Belanda dengan wilayah tropis. Perbandingan ini sering kali menempatkan Eropa sebagai standar kemajuan ilmiah, sementara wilayah lain dijadikan objek studi komparatif untuk memvalidasi pengetahuan Eropa.
Risalah tentang Bumi dan Kekuasaan: Al Biruni
Al-Biruni menulis catatan mendalamnya tentang India (yang menjadi dasar risalah perspektif geologi dan budayanya) selama kurang lebih 13 tahun perjalanannya di India Utara. Karya tersebut diselesaikan sekitar tahun 1030 Masehi. Pada periode tersebut (awal abad ke-11), dunia Islam secara formal berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Bagdad. Khalifah yang menjabat saat Al-Biruni menyelesaikan karyanya (tahun 1030 M) adalah Khalifah Al-Qadir (memerintah 991–1031 M). Meskipun secara nominal berada di bawah Kekhalifahan Abbasiyah, kekuasaan politik praktis yang menaungi Al-Biruni saat itu adalah Dinasti Ghaznawiyah. Ia menulis dan melakukan penelitian di bawah perlindungan Sultan Mahmud dari Ghazna (yang wafat pada tahun 1030 M) dan kemudian dilanjutkan pada masa putranya, Sultan Mas’ud dari Ghazna.
Al Biruni melihat hubungan antara ruang geografis dan kekuatan politik terwujud secara nyata namun pahit di tanah India. Sultan Mahmud telah memperluas kekuasaannya dari Ghazna hingga Lahore, yang mengubah peta wilayah melalui penaklukan militer yang besar. Namun, kekuatan politik yang hanya berlandaskan pada pedang tanpa pemahaman akan jiwa penduduknya hanya akan menyisakan puing-puing.
Meskipun terpisah jarak sembilan abad, Al-Biruni dan J.H.F. Umbgrove memiliki titik temu yang kuat pada fondasi empirisme dan penolakan terhadap spekulasi tanpa bukti. Keduanya berangkat dari rasa tidak percaya pada narasi tradisional yang tidak berdasar, di mana Al-Biruni menekankan pentingnya melihat fenomena alam dengan “mata kepala sendiri”, sementara Umbgrove bersikeras bahwa sebuah hipotesis geologi harus segera dibuang jika bertentangan dengan fakta lapangan. Persamaan mendasar ini menjadikan keduanya pionir dalam merekonstruksi sejarah transformasi Bumi, di mana mereka memandang wajah planet ini bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai hasil dari proses dinamis yang terus berlangsung selama jutaan tahun.
Dalam kajiannya di India, Al-Biruni menggunakan metode induktif yang sangat tajam dengan meneliti objek-objek mikroskopis untuk menarik kesimpulan besar. Melalui pengamatan terhadap batuan bulat (pebbles) yang halus di kaki pegunungan Himalaya, ia berhasil merumuskan teori bahwa dataran India dulunya adalah dasar laut yang secara perlahan terisi oleh sedimen aluvial. Pendekatan Al-Biruni ini bersifat lokal namun sangat mendalam, di mana geologi digunakan sebagai alat untuk memahami konteks geografis dan peradaban yang ia tinggali. Ia mampu menghubungkan material fisik Bumi dengan sejarah pembentukan wilayah secara kronologis dan logis.
Distingsi utama di antara keduanya terletak pada skala kajian dan bingkai narasinya. Jika Al-Biruni memfokuskan kearifannya pada wilayah geografi spesifik untuk kepentingan dialog antarperadaban dan sains terapan, Umbgrove berupaya menyusun sebuah teori tunggal yang mencakup seluruh dinamika planet. Konsep “periodisiti” atau keberulangan ritme merupakan pembeda terbesar dalam pemikiran Umbgrove, ia melihat Bumi memiliki “denyut jantung” yang mengatur segala transformasi. Sementara itu, Al-Biruni tetap setia pada analisis sosiopolitik dan ilmiah yang tajam, di mana geologi adalah latar belakang fisik bagi pemahaman manusia tentang budaya dan lingkungan di sekitarnya.
Al-Biruni memberikan dasar bagi geologi empiris melalui pengamatan sedimen yang teliti di India, Al Biruni berpendapat ilmu pengetahuan tentang Bumi selalu membutuhkan perpaduan antara ketajaman observasi fisik dan imajinasi intelektual untuk mengungkap rahasia masa lalu planet kita.
Dalam kosmologi Islam abad ke-11 yang dianut Al-Biruni, Bumi (sebagai objek geologi) dan Langit (sebagai objek astronomi/astrologi) adalah satu sistem mekanis yang saling terkait erat. Hubungan tersebut terjalin melalui konsep-konsep berikut:
1. Teori Empat Elemen dan Pembentukan Material Fisik
Dalam Kitab al-Tafhim, Al-Biruni menjelaskan bahwa jagat raya di bawah bulan (sub-lunar) terdiri dari empat elemen dasar: Tanah (Bumi), Air, Udara, dan Api. Planet-planet dan rasi bintang (Zodiak) dikategorikan berdasarkan sifat empat elemen ini.
Geologi bumi, seperti pembentukan formasi batuan, logam di dalam tanah, dan sifat kering/basahnya suatu wilayah diyakini sangat dipengaruhi oleh radiasi dan komposisi elemen dari planet yang “menguasai” pembentukannya. Misalnya, planet tertentu dikaitkan dengan logam tertentu di dalam perut bumi (seperti Matahari dengan emas, Bulan dengan perak, Saturnus dengan timah hitam).
2. Pengaruh Benda Langit terhadap Fenomena Geofisika
Sarjana masa lalu meyakini bahwa pergerakan lempeng, gempa bumi, pasang surut air laut (yang mengubah bentang alam pantai/aluvial seperti di India), serta perubahan iklim ekstrem sangat dipengaruhi oleh Conjunction (kesejajaran atau pertemuan) antara planet-planet besar. Tarikan gravitasi dan “pengaruh astral” dari bintang-bintang diyakini sebagai “motor penggerak” dari fenomena geologis yang mengubah rupa bumi.
3. Penentuan Koordinat Geologi melalui Astronomi
Secara sangat praktis, geologi dan geografi tidak dapat dipelajari tanpa ilmu bintang. Al-Biruni menggunakan observasi lintasan bintang (astronomi) yang dirinci dalam Kitab al-Tafhim untuk mengukur keliling Bumi, menentukan garis lintang dan bujur berbagai kota di India, dan memetakan dataran fisik. Pengetahuan tentang rasi bintang adalah alat ukur (penggaris kosmis) yang digunakan Al-Biruni untuk menggambar peta geografi bumi yang ia teliti.
4. Pembagian 7 Iklim (Climes) Bumi Berdasarkan Orbit Planet
Dalam tradisi ilmu pengetahuan kuno yang diaminkan Al-Biruni, permukaan bumi (geografi) dibagi menjadi tujuh zona atau wilayah (Haft Iqlim). Setiap zona geografis ini “dikuasai” atau berada di bawah naungan satu planet tertentu (Saturnus, Jupiter, Mars, Matahari, Venus, Merkurius, Bulan). Penguasa planet ini dipercaya memengaruhi bukan hanya cuaca dan kesuburan tanah di zona tersebut, tetapi juga topografi dan bahkan karakter, budaya, serta warna kulit manusia yang menghuninya (sebagaimana yang ia amati di India).
Ia tidak melihat bumi yang dikajinya di India sebagai daratan mati yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian kecil dari mesin kosmis raksasa. Batu-batu bulat yang ia temukan di sungai-sungai India (geologi) tunduk pada hukum alam yang sama dengan orbit-orbit teratur planet di tata surya (astronomi). Bintang-bintang memberikan kerangka waktu, ritme, dan batas ruang, sementara bumi menyimpan bukti fisiknya. Bagi Al-Biruni, mempelajari geologi sedimen India dan menghitung geometri pergerakan bintang adalah dua cara yang berbeda untuk mengagumi satu hal yang sama: Keteraturan Agung ciptaan Tuhan.
Perspektif Pascakolonial: Ilusi Independensi
Menarik untuk mengaitkan karya Umbgrove dengan pemikiran negara-negara pascakolonial sering kali mewarisi struktur yang diciptakan oleh penjajah, sehingga kemerdekaan yang mereka miliki sering kali bersifat “ilusi”. Fenomena ini juga terjadi dalam ilmu pengetahuan. Meskipun Indonesia telah merdeka, fondasi ilmu kebumian yang digunakan masih sangat dipengaruhi oleh “peta” dan metodologi yang diletakkan oleh ilmuwan seperti Umbgrove. Sains post-kolonial sering kali masih terjebak dalam paradigma yang ditentukan oleh pusat-pusat penelitian di mantan negara penjajah.
Para penguasa baru di negara pascakolonial sering kali hanya melanjutkan manajemen kolonial yang otoriter. Dalam sains, hal ini mewujud pada kecenderungan untuk memprioritaskan proyek ekstraktif yang menguntungkan modal global, serupa dengan cara kerja departemen geologi kolonial di masa lalu.
Secara literatur, karya Umbgrove menggunakan gaya penulisan prosa konvensional yang bertujuan membuat sains dapat dicerna oleh orang awam. Namun, gaya narasi ini juga mengandung muatan ideologis. Narasi “penemuan” (discovery) yang sering muncul dalam teks-teks ilmiah kolonial cenderung mengabaikan pengetahuan lokal. Gunung-gunung atau formasi batuan dianggap “ditemukan” hanya setelah ilmuwan Eropa mendokumentasikannya, seolah-olah masyarakat pribumi yang telah hidup di sana selama ribuan tahun tidak memiliki pengetahuan berharga tentang tanah mereka sendiri.
Al Biruni menemukan bahwa bagi para bijak (intelektual) di India, bumi memiliki pusat spiritualnya sendiri, yaitu Gunung Meru. Meskipun kemudian Al Biruni, secara matematis mengkritisi beberapa deskripsi mereka tentang ketinggian dan bentuk gunung tersebut, “ … aku menghargai cara mereka memberikan makna puitis dan sakral pada struktur bumi. Mereka melihat alam semesta sebagai sebuah keteraturan yang berputar, di mana setiap sungai, seperti Gangga, dan setiap pulau, seperti Lanka, memiliki tempatnya dalam kosmos yang harmonis…”. Inilah sisi puitis dari geologi, bahwa batuan dan air memiliki narasi tentang asal-usul manusia dan kedekatannya dengan Sang Pencipta.
Kedaulatan sejati tidak akan tercapai hanya dengan menguasai benteng-benteng di atas gunung, tetapi dengan memahami bahasa dan tradisi yang tumbuh dari tanah tersebut. “ …Pengetahuanku tentang sains, astronomi, dan geografi Hindustan bertujuan agar kita dapat bercakap-cakap dengan mereka di atas dasar peradaban mereka sendiri.”
Umbgrove menulis tentang evolusi kehidupan dan pengaruh lingkungan fisik dengan nada yang sangat otoritatif. Dalam literatur kolonial, otoritas ilmiah ini digunakan untuk melegitimasi posisi Eropa sebagai pemberi “peradaban” dan “pencerahan” bagi wilayah-wilayah yang dianggap tertinggal secara intelektual.
Membaca kembali The Pulse of the Earth dan Symphony of the Earth hari ini mengharuskan kita untuk melakukan dekonstruksi. Kita tidak bisa hanya mengagumi kontribusi ilmiah Umbgrove terhadap teori tektonik tanpa mempertanyakan konteks kolonial yang memungkinkan teori tersebut lahir. Dekolonisasi ilmu pengetahuan berarti mengakui bahwa sains tidak pernah netral dari kepentingan politik.
Bacalah!
Umbgrove, J. H. F. (1942). The pulse of the earth. Martinus Nijhoff.
Umbgrove, J. H. F. (1950). Symphony of the earth. Springer Netherlands.
Al-Biruni, A. R. M. (1971). Alberuni’s India (E. C. Sachau, Terj., A. T. Embree, Ed.). W. W. Norton & Company. (Karya asli diperkirakan selesai tahun 1030 M).
Al-Biruni, A. R. M. (2007). The book of instruction in the elements of the art of astrology (Kitab al-Tafhim li Awa’il Sina’at al-Tanjim) (R. R. Wright, Terj.). Antioch Gate. (Karya asli ditulis tahun 1029 M).


