Gaya Hidup Konsumsi Berkelanjutan

oleh: widhyanto muttaqien

Sekilas Konsumerisme

Konsumerisme, mengonsumsi barang dan jasa lebih dari kebutuhan dasar seseorang. Gelombang pasang konsumtif yang signifikan melanda Eropa dan Amerika Utara pada abad pertengahan ke-18 sebagai akibat dari Revolusi Industri dan transformasi ekonomi Eropa Barat dan Amerika Utara. Mekanisasi sejumlah proses dalam pertanian dan hilangnya penggunaan tenaga kerja manusia dalam persentase tertentu memicu Revolusi Industri dan pertumbuhan penduduk perkotaan (juga perdesaan karena gizi yang baik dan akses terhadap energi yang lebih merata).

Hasil dari industrialisasi menciptakan kondisi produksi massal dan konsumsi massa, untuk pertama kalinya dalam jumlah besar. Barang-barang manufaktur tiba-tiba tersedia untuk semua orang dengan harga luar biasa rendah. Pada abad ke-19, konsumsi mencolok (conspicuous consumption) diperkenalkan oleh ekonom dan sosiolog Thorstein Veblen (1857-1929), dalam buku Theory of the Leisure Class: An Economic Study in the Evolution of Institutions (1899), untuk menggambarkan perilaku karakteristik orang kaya baru (OKB). Sebuah kelas sosial yang muncul sebagai akibat dari akumulasi modal selama Revolusi Industri Kedua (sekitar tahun 1860-1914).

Perang Dunia II membawa kebutuhan yang kuat untuk melestarikan sumber daya alam, karena akibat perang menyebabkan kelangkaan sumber daya. Perang menyebabkan prioritas penggunaan sumberdaya fokus pada pembuatan senjata penghancur, yang menghacurkan pertanian, menghancurkan sumber pangan, menghancurkan sumber air, menghancurkan sumber energi, menghancurkan peradaban. Walaupun ada persoalan bisnis di balik perang, termasuk dalam bisnis minyak dan pangan.

 

http://www.zejournal.mobi/id/index.php/news/show_detail/8744

Untuk pertama kalinya kampanye untuk pelestarian sumberdaya yang melibatkan warga dilakukan oleh Pemerintah AS. Mereka meluncurkan kampanye besar-besaran mendesak warga untuk menjadi patriotik dengan melestarikan sumber daya, menggunakan kembali dan mendaur ulang, menanam makanan mereka sendiri, dan untuk berbagi. Akibatnya, berhemat menjadi norma baru.

Dalam pengertian lain beberapa penulis, memiliki istilah seperti ‘konsumsi ceroboh’ (profligate consumption), yaitu bentuk konsumsi yang dalam pepatah Indonesia, disebut ‘lebih besar pasak daripada tiang’. Konsumsi ceroboh ini bukan hanya menghinggapi kaum kaya atau OKB, namun juga sebagian besar masyarakat yang tidak memiliki kekayaan begitu besar. Beberapa kajian kemiskinan di Indonesia memperlihatkan bahwa bentuk-bentuk konsumsi seperti ini mengawetkan kemiskinan menjadi ‘lingkaran setan’ kemiskinan.

Istilah lain terkait konsumerisme adalah Masyarakat Berkelimpahan (1958) oleh ekonom Harvard John Kenneth Galbraith. Buku ini berusaha untuk menguraikan situasi pasca-Perang Dunia II, dimana Amerika Serikat telah menjadi kaya di sektor swasta, tetapi tetap miskin di sektor publik, kurang infrastruktur sosial dan fisik, dan mengabadikan perbedaan pendapatan.

Catatan Galbraith dalam buku ini adalah permintaan barang dan jasa tidak organik. Artinya, tuntutan tidak diciptakan secara internal oleh konsumen. Tuntutan tersebut – makanan, pakaian, dan tempat tinggal – telah dipenuhi untuk sebagian besar orang Amerika. Tuntutan baru yang dibuat oleh pengiklan dan “mesin untuk penciptaan permintaan konsumen” sebagai dampak dari peningkatan belanja konsumen. Konsumsi terus menerus diciptakan dari rasa kepuasan, artinya keinginan adalah hasrat untuk mencapai kepuasan-namun kepuasan dalam hal ini adalah imaji yang diberikan oleh iklan bukan disebabkan kebutuhan.

Sampai saat ini Amerika menghasilkan separuh dari limbah padat di dunia meskipun hanya 5 persen dari populasi dunia (2014).

Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan adalah penggunaan (baca: konsumsi) barang dan jasa untuk merespon kebutuhan dasar dan memenuhi syarat kehidupan, dengan cara (baca: produksi) meminimalkan penggunaan sumber daya alam, bahan beracun, dan emisi limbah dan polutan selama siklus hidup, sehingga tidak membahayakan kebutuhan generasi mendatang ( Symposium Sustainable Consumption. Oslo, Norway; 19-20 January 1994).

World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) mencatat beberapa hal yang menjadi tantangan pembangunan berkelanjutan, dimana sektor bisnis dapat membantu mengembangkan tingkat yang lebih berkelanjutan dan pola konsumsi.

Dari sisi kompetisi kesempatan ini bagi sektor bisnis membantu konsumen memilih dan menggunakan barang-barang mereka dan layanan secara berkelanjutan. Untuk melakukannya, bisnis harus menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi konsumen dengan menyediakan produk dan layanan yang memenuhi fungsional mereka dan kebutuhan emosional – sekarang dan untuk generasi mendatang – sementara menghormati batas lingkungan dan nilai-nilai bersama.

Beberapa isu yang menjadi tantangan bagi sektor bisnis adalah:

1. Pendorong Konsumsi Global

  1. Pertumbuhan cepat populasi global – Penduduk 9 miliar diharapkan pada tahun 2050
  2. Kenaikan kemakmuran global dan terkait konsumsi – kelas menengah global diperkirakan tiga kali lipat pada tahun 2030;
  3. Konsumen berpenghasilan rendah merupakan pasar dari US $ 5.000.000.000.000
  4. Budaya “konsumerisme” di antara kelompok pendapatan yang lebih tinggi, yang jumlahnya terbesar dari sisi pendapatan per kapita global

2. Pola konsumsi global & dampaknya

  1. Ekosistem Bumi – 60% dari jasa ekosistem bumi telah terdegradasi dalam 50 tahun terakhir.
  2. Pasokan energi dan bahan sumber daya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan industri – konsumsi sumber daya alam diperkirakan meningkat hingga 170% dari bio-kapasitas bumi tahun 2040
  3. Sistem sosial manusia dan kesejahteraan – Kesejahteraan manusia tidak selalu bergantung pada tingginya tingkat konsumsi

3. Peran konsumen

  1. Konsumen semakin khawatir tentang isu-isu lingkungan, sosial dan ekonomi, dan semakin bersedia untuk bertindak atas kekhawatiran mereka
  2. Kesediaan Konsumen sering tidak diterjemahkan ke dalam perilaku konsumen yang berkelanjutan karena berbagai faktor -seperti;
    a. ketersediaan,
    b. keterjangkauan,
    c. kemudahan,
    d. kinerja produk,
    e. prioritas yang saling bertentangan,
    f. skeptisisme dan,
    g. kekuatan kebiasaan

4. Peran bisnis

Pengarusutamaan konsumsi berkelanjutan. Kasus bisnis: Bisnis pendekatan untuk konsumsi berkelanjutan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori:

  1. Inovasi – proses bisnis dalam pengembangan produk baru dan peningkatan layanan dan pergeseran bisnis untuk menggabungkan ketentuan yang disepakati yaitu memaksimalkan nilai sosial dan meminimalkan biaya lingkungan sebagai ‘raison d’etre bisnis’ (bottom line)
  2. Pilihan memengaruhi – penggunaan pemasaran dan kampanye peningkatan kesadaran untuk mengaktifkan dan mendorong konsumen untuk memilih dan menggunakan produk yang lebih efisien dan berkelanjutan.
  3. Pilihan penyuntingan – penghapusan “tidak berkelanjutan” produk dan jasa dari pasar dalam kemitraan dengan aktor lain dalam masyarakat.

5. Tantangan ke depan & pilihan untuk perubahan

Untuk dapat mengarahkan gaya hidup yang berkelanjutan berdasarkan keputusan informasi pembelian dan perubahan perilaku, konsumen membutuhkan dukungan dari semua aktor: bisnis, pemerintah dan masyarakat sipil.

  1. Bisnis melihat kebutuhan untuk dialog lebih lanjut dengan para pemangku kepentingan (seperti konsumen, pengecer, pemasar, pembuat kebijakan, LSM) dan antara perusahaan untuk menentukan produk yang berkelanjutan dan gaya hidup serta merumuskan tanggapan balik untuk ditindaklanjuti
  2. Pemimpin bisnis mesti memiliki kapasitas untuk memilih pola konsumsi yang berkelanjutan dan pemangku kepentingan menyambut kesempatan untuk bekerja bersama bisnis bergerak maju.

Pendekatan di atas adalah pendekatan yamg tetap bertumpu pada kepentingan pasar. Nair (2013) menjelaskan bahwa sumbu utama dalam menyelamatkan Asia, dalam bingkai konsumsi dan produksi berkelanjutan adalah dengan pembatasan terhadap cara-cara pengelolaan lingkungan yang tidak ramah, dengan menghitung biaya kerusakan sumberdaya, emisi, dan jasa lingkungan. Model pelarangan penggunaan jaring pukat, sebenarnya sudah alam diterapkan, namun dalam era pemerintahan Jokowi, penegakkan hukum sungguh-sungguh dilaksanakan. Model pelarangan pembukaan lahan, menggantikannya dengan merestorasi lahan kritis dapat menjadi alternatif bagi pemerintah untuk pengembangan hutan produksi, hutan tanaman industri.

Kedua, dengan menyediakan barang publik dan mengecilkan posisi atau status barang, misalnya dengan memberikan pajak yang besar terhadap mobil yang mengonsumsi bahan bakar besar, memberikan infrastruktur bagi mobil yang ramah lingkungan. Untuk penyediaan barang publik, kasus transformasi di PT. Kereta Api Indonesia, dengan pelayanan Commuter Line nya merupakan contoh bagaimana publik diberikan pilihan yang rasional, menyangkut kecepatan dan ketersediaan jasa transportasi massal.

Konsumen Hijau

Dalam beberapa tahun terakhir, isu-isu lingkungan telah menerima banyak perhatian, mencerminkan meningkatnya perhatian publik dan kesadaran masalah lingkungan. Kampanye berbagai kelompok lingkungan telah menyebarkan pengetahuan dan kesadaran masalah lingkungan. Liputan media pada isu-isu lingkungan telah meningkat secara dramatis. Lingkungan kebijakan juga banyak dipengaruhi oelh protokol internasional, seperti kesepakatan yang dibangun dalam serial Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi.

Ada bukti bahwa sebagian besar pasar Barat telah dipengaruhi oleh perilaku konsumen hijau, yang berarti perilaku yang mencerminkan kepedulian tentang efek dari manufaktur dan konsumsi pada lingkungan alam.

Selain perubahan hukum, selama dekade terakhir banyak perusahaan mulai merasakan dampak dari kekuatan pasar, konsumen telah berubah dari tidak peduli menjadi lebih peduli terhdap lingkungan. Bahkan sekarang, konsumen sering memboikot perilaku yang dihasilkan produsen berdasarkan pelaporan media dan aktivitas kelompok penekan.

Pertanyaan penting dalam melihat pelaku konsumen hijau dapat dilihat dalam daftar pertanyaan sebagai berikut.

  1. Apa yang mendorong konsumen hijau? Apa nilai-nilai, motif, dan keinginan dibalik perilaku konsumen hijau?Apa yang mendorong emosi dan perasaan yang terhubung dengan belanja hijau?
  2. Apakah perilaku konsumen hijau membawa etika, agama dan / atau dimensi spiritual?
  3. Apakah pengetahuan dan pemahaman tentang isu-isu lingkungan dipegang oleh konsumen hijau? Bagaimana pembelajaran terjadi mengenai konsumsi hijau?
  4. Apakah konsumen hijau memiliki profil khas secara sosio-demografis? Apakah perilaku konsumen hijau dapat dikaitkan dengan usia, jenis kelamin, pendapatan, pandangan politik, dll?
  5. Pengaruh apa yang diberikan oleh kelompok sebaya dan jaringan sosial untuk membuat orang berperilaku dalam cara yang ramah lingkungan?
  6. Apakah perilaku konsumen hijau adalah ekspresi dari pilihan gaya hidup tertentu?
  7. Seberapa jauh perilaku konsumen hijau dibentuk oleh iklim budaya yang sedang terjadi?Seberapa jauh perilaku konsumen hijau mengembangkan dampak budaya sendiri?
  8. Apakah perilaku konsumen bagian hijau dari budaya-tanding yang terlepas dari masyarakat yang lebih luas? Apakah konsumen hijau mencerminkan perilaku keterasingan dengan praktik sosial konvensional?

Pustaka

Nair, Chandran. 2013. Consumptionomics. Peran Asia Dalam Menciptakan Model Kapitalisme Baru. Red & White Publishing. ISBN 978-979-1008-69-3

Wagner, Sigmund A. 1997. Understanding Green Consumer Behaviour: A qualitative cognitive approach. ISBN 0-203-75227-9 (Adobe eReader Format). Routledge.

The Business Role Focus Area. 2008. Business Role Focus Area’s Sustainable Consumption & Consumers. ISBN 978-3-940388-30-8. World Business Council for Sustainable Development.

Zero Waste Event; Merawat Lingkungan dari Hal Sederhana

Apa yang bisa dilakukan konsumen untuk berkontribusi terhadap lingkungan?

Bagaimana kafe, restoran, dan hotel memainkan peran dalam menjaga perubahan iklim?

Sejauh mana penerapan pengolahan sampah berkelanjutan yang menjadi perhatian banyak pihak?

Temukan jawabannya dalam diskusi akan akan digelar Perkumpulan Creata pada Jumat, 9 September 2016. Menghadirkan pembicara dari otoritas terkait dan pemangku kepentingan, Zero Waste Event menjadi kontribusi nyata untuk merawat lingkungan dari hal sederhana.

Zero Waste Talk

ZeeWee

Zero Waste Event

oleh: widhyanto muttaqien

ZeeWee atau kependekan dari Zero Waste Event adalah sebuah acara dimana organisator acara merencanakan mengurangi limbah padat dari acara tersebut sejak awal, menggunakan kembali berbagai elemen seperti spanduk, brosur, poster. Dan menyediakan tempat untuk bahan-bahan daur ulang dan kompos seperti cangkir kertas, sisa makanan, dan botol air plastik yang dihasilkan oleh acara tersebut.

Pencegahan limbah sejak awal acara

  1. Mengurangi iklan acara dalam bentuk barang cetakan (printed material).
  2. Menghilangkan kupon atau tiket kertas, ganti dengan gimmick yang bisa dipindai sekaligus dijadikan souvenir. Atau gunakan tiket yang bisa menjadi pembatas buku.
  3. Menghilangkan distribusi air minum kemasan (plastik) komersial dalam mendukung stasiun air curah (baca: gunakan air galon) dan cangkir daur ulang.
  4. Membeli produk konten daur ulang, untuk kebutuhan acara (seperti hadiah, seminar kit).
  5. Memberikan masukan diskon atau insentif bagi peserta yang melakukan perjalanan ke acara menggunakan transportasi alternatif (motor atau mobil listrik dan sepeda).

 

 

conserve
Poster yang menarik dapat dijadikan gimmick Sumber: http://www.desainic.com/23-contoh-poster-desain-keren-dan-kreatif/
Tas Belanja dari bahan daur ulang (upcycling) yang menjadi sovenir dalam setiap acara Creata
Tas Belanja dari bahan daur ulang (upcycling) yang menjadi sovenir dalam setiap acara Creata

Gunakan produk yang bisa dipakai ulang

  1. Sekarang banyak produk sekali pakai untuk penyelenggaraan acara, seperti spanduk, baliho, brosur atau tanda-tanda yang menunjukan arah tempat acara. Gunakan desain dengan membuat panel tahun dan tema acara yang dapat diganti untuk tahun-tahun berikutnya.
  2. Gunakan desain yang menarik dan tahan lama agar beberapa poster atau brosur menarik untuk diabadikan (baca: dijadikan kenang-kenangan).
  3. Gunakan piring dan gelas (peralatan makan) dari plastik atau keramik yang dapat digunakan kembali.
  4. Banyak sekali restoran dan kafe yang masih menggunakan saos, gula, garam, dalam sachet. Dalam ZeeWee hal itu tidak berlaku. Gunakan wadah yang aman dan bersih yang dapat dipakai berkali-kali.

Tim Hijau

  1. Atur tim kerja yang disebut ‘Tim Daur Ulang’ yang memiliki dedikasi on site sepanjang acara untuk mengawasi stasiun daur ulang dan memilah bahan yang didaur-ulang dan meminimalkan risiko kontaminasi (baca: selain bau tak sedap, kemungkinan pencemaran dihindari).
  2. Sebarkan kepada calon pengunjung, ‘apa yang boleh dibawa’ terkait gaya hidup hijau.
  3. Gunakan kejutan dalam memberikan hadiah kepada mereka, anggota tim Anda dan pengunjung, yang kreatif dan berinisiatif ‘menghijaukan’ acara.

 

Keep smile and be creative!

Menghijaukan Lingkungan dengan Zero Waste Resto

Sebanyak 1.200 ton sampah dihasilkan Kota Depok setiap harinya. Dari jumlah tersebut, hanya 620 ton yang bisa ditampung di TPA Cipayung. Lantas ke mana sisanya?

Sebagian sisa sampah yang tidak tertampung tersebut di bakar atau dijadikan pupuk kompos. Sebagian besar lainnya dibiarkan teronggok di tempat-tempat publik. Guna menangani persoalan sampah, pemerintah Kota Depok sebenarnya sudah memiliki payung hukum yang jelas. Ini tercermin dari Perda Nomor 5 tahun 2014 tentang pengelolaan sampah. Melalui instrumen legal ini kota depok ditargetkan menjadi kota tanpa sampah “Depok Zero Waste City” di masa mendatang.

Persoalan sampah di Kota Depok ini menjadi perhatian sejumlah pihak. Salah satunya adalah Widhyanto Muttaqien. Beserta sejumlah koleganya, alumni pascasarjana Institut Pertanian Bogor mendirikan sebuah perkumpulan bernama Center for Reasearch on Environment, Appropriate Technology, and Advocacy (CREATA).

Pria yang akrab di sapa Widhy ini menuturkan perkumpulan Creata diisi oleh sejumlah peneliti di berbagai bidang keilmuan. Mulai dari pengelolaan sampah hingga sumber daya alam. Dalam praktiknya, organisasi non-profit ini sengaja memilih Depok sebagai basis proyek pemberdayaan mereka karena beberapa faktor.

“Pengelolaan sampah di Kota Depok ini sebenarnya sudah tergolong maju tetapi kurang sosialisasi. Selain itu Depok juga memiliki banyak komunitas anak muda yang bisa digerakkan untuk membantu menanggulangi persoalan sampah,” katanya kepada Bisnis, Kamis (26/8).

Perkumpulan ini memang baru berdiri setahun terakhir. Namun, sejumlah riset program pemberdayaan sudah dilakukan. Salah satu proyek yang sedang dikerjakan adalah pembuatan peta hijau kota Depok. Widhi berharap peta yang akan berbentku aplikasi Android ini bisa menjadi panduan masyarakat Kota Depok untuk menjalani gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Zero Waste Resto

ZWR-Logo
ZWR-Logo

Saat berkunjung ke restoran atau tempat makan, apa yang menjadi pertimbangan anda? Sebagian besar mungkin akan menjawab lokasi, harga makanan yang ditawarkan, atau reputasi café tersebut di kalangan masyarakat. Sangat sedikit sekali masyarakat yang mempertimbangkan aspek ‘hijau’ restoran tersebut.

“Padahal konsumen memegang peranan penting dalam kampanye lingkungan hijau,” paparnya.

Melihat fenomena tersebut, perkumpulan Creata menjadikan ‘Zero Waste Resto’ sebagai salah satu program ungguan mereka. Ini dilakukan dengan melakukan riset terhadap 14 restoran kelas menengah atas yang tersebar di Kota Depok. Tidak hanya riset, mereka juga menawarkan program pelatihan secara gratis kepada restoran tersebut dengan berkolaborasi bersama Badan Lingkungan Hidup Kota Depok.

Widhi menuturkan sejumlah café dan restoran menunjukkan minat sangat besar terhadap program tersebut. Namun, mereka saat ini masih kesulitan mengimplementasikan konsep ‘Zero Waste Resto’ di lahan usaha mereka.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan program ZWR? Menurut Widhi, kampanye program ini memiliki empat aspek utama. Pertama, bahan makanan harus berasal dari sumber yang memenuhi standar lingkungan. Idealnya, bahan makanan ini berasal dari aktivitas urban farming yang mengadopsi sistem pertanian organik. Restoran dan café harus memperhatikan produsen bahan-bahan makanan tersebut.

Kedua, pemilik tempat makan juga harus memperhatikan aspek kandungan gizi dari makanan yang disajikan. Menurut Widhi, hal ini bisa dilakukan dengan memberikan informasi mengenai kandungan gizi suatu makanan di buku menu kepada konsumen. Dengan demikian, pelanggan bisa memilih mana makanan yang cocok untuk mereka.

Aspek ketiga adalah pengelolan sampah dan sisa aktivitas masak seperti minyak jelantah. Pengelolaan sampah bisa dimulai dengan melakukan pemilahan antara sampah organik dan non-organik. Sampah non-organik bisa didaur ulang, sedangkan untuk sampah organik bisa diolah menjadi pupuk atau biogas. “Khusus untuk minyak jelantah kami sudah punya proyek percontohan untuk mengolah minyak tersebut menjadi bahan bakar mesin diesel di Jagakarsa,” tambah Widhi.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah mengumpulkan sisa makanan yang seharusnya masih bisa dikonsumsi. Widhi menuturkan banyak restoran saat ini membuang sisa makanan yang sejatinya masih bisa dimanfaatkan. Di Malang dan Bogor, sejumlah komunitas telah memulai gerakan untuk mengumpulkan sayuran yang tidak laku di jual atau makanan dari restoran untuk dibagikan gratis kepada masyarakat.

Ke depan, Widhi berharap pihaknya dan pemerintah kota bisa memberikan labelisasi kepada restoran yang memang telah memperhatikan aspek lingkungan tersebut. Ini bisa dituangkan dalam bentuk Peraturan Wali Kota agar masyarakat terpacu memilih tempat makan yang sudah menerapkan program ‘Zero Waste Resto’.

Persoalan ini memang terkesan sepele. Namun, data menunjukkan 1,3 miliar ton makanan terbuang sia-sia setiap tahunnya. Padahal, 800 juta manusia lain di berbagai belahan dunia mengalami masalah kelaparan dan kekurangan gizi. Akankah kita berpangku tangan menyaksikan sampah makanan yang menggunung?

http://jakarta.bisnis.com/read/20160903/383/581022/mengampanyekan-program-zero-waste-resto.it

Terbit di Harian Bisnis Indonesia edisi Sabtu, 3 September 2016

Bisnis Indonesia, Sabtu (3/9/2016)
Bisnis Indonesia, Sabtu (3/9/2016)

 

Diskusi Rencana Tindak Lanjut Hasil Riset ZWR

oleh:

Hilmiyah Tsabitah dan Parama Mahardikka

 

Diskusi grup terfokus ini merupakan presentasi laporan program restoran nol limbah (zero waste restaurant) yang telah dilakukan CREATA dan UKM UI Ranting Hijau di restoran L yang berada di Margo City, Depok, Jawa Barat. Diskusi ini dilaksanakan di Bank Sampah Sukmajaya, Depok, Jawa Barat pada hari Kamis, 25 Februari 2016 yang bekerjasama dengan Bank Sampah Sukmajaya Depok serta dihadiri oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan, dan Badan Lingkungan Hidup Kota Depok. Narasumber dari diskusi ini adalah Parama Maharddhika dan Hilmiyah Tsabitah dari CREATA.

 

IMG-20160225-WA0011-2
Suasana diskusi sosialisasi awal hasil riset ZWR ke para pihak

 

 

Proses diskusi ini berjalan dengan lancar, hal ini dapat dilihat dari banyaknya tanggapan dan masukan dari para peserta. Presentasi yang disampaikan antara lain adalah proses kegiatan restoran nol limbah termasuk pemilahannya, temuan potensi reduksi sampah hingga 84,7 %, dan rekomendasi yang disampaikan dari CREATA. Dari program awal ini, diharapkan mampu menjadikan titik awal program – program serupa yang dilakukan ditempat lain.

 

IMG-20160225-WA0006
Para pemangku kepentingan yang hadir antara lain, BLH Kota Depok, DKP Kota Depok, Asosiasi Bank Sampah Kota Depok

 

Rekomendasi dari CREATA sebagai hasil dari program restoran nol limbah pertama ini antara lain adalah; penyusunan SOP pemilahan sampah yang jelas untuk restoran, edukasi karyawan restoran untuk memilah sampah, perlunya sosialisasi dan kampanye edukasi pemilahan sampah dari pihak Pemerintah Daerah (Kota Depok), dan riset aksi berupa pendampingan kepada restoran – restoran peserta program ini.

Riset Zero Waste Restaurant

Menuju Restoran Nol Limbah (zero waste restaurant)

oleh:

Hilmiyah Tsabitah

Indonesia Population 2015, World Population Review, Amerika Serikat, dilihat 24 Juli 2015, (UN, 2015) mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara terpadat keempat di dunia dengan jumlah penduduk sebesar 237.424.363 yang memliki berbagai aktivitas yang dilakukan masyarakatnya. Banyak kota-kota di Indonesia yang telah menjadi titik keramaian atau pusat dari aktivitas kota tersebut. Salah satu kawasan keramaian yang dapat dijumpai sebagai titik keramaian adalah suatu kawasan yang menjadi penghubung antara kota Jakarta bagian Selatan dengan Kota Depok.

Kawasan tersebut biasa kita kenal dengan Jalan Margonda. Sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Depok akan dibuang ke berbagai Tempat Pembuangan Sementara (TPS) lalu dilanjutkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung. Sampah yang dihasilkan masyarakat kota Depok sebanyak 4500 m3 dengan rincian yang masuk ke TPA Cipayung sebanyak 1200 m3 dan 3300 m3 tersebar di TPS TPS dengan persentase sampah organik sebesar 32.48% dan persentase sampah anorganik sebesar 67.52% di Kota Depok.

Adapun penerapan ZWR memiliki manfaat sebagai berikut: (Brown,2014)

Pengembangan bisnis yang berkelanjutan

Peningkatan daur ulang menambah kesempatan kerja. Penelitian oleh Institut for Local-Relience Restaurant, yang terbit tahun 2013, mengemukakan bahwa membuat kompos lebih memerlukan banyak orang daripada mengelolah tanah dan melakukan pembakaran.

Konservasi Sumber Daya Alam dan Tabungan Uang

Dengan melakukan daur ulang, maka sumber daya alam akan hemat pemanfaatannya begitupun uang.

Mengurangi Emisi GRK dan Hemat Energi

Dengan melakukan daur ulang maka tidak akan dilakukan pembakaran sehingga tidak menimbulkan emisi, selain itu juga menghemat energy dalam membuat benda baru, kaarena benda lama masih bisa digunakan.

 Melestarikan Kapasitas Tempat Pembuangan Sampah Akhir

Dengan melakukan daur ulang, maka sampah yag dhasilkan akan berkurang dan hal ini menyebabkan kapasitas TPA sebagai tempat pembuangan sampah tidak banyak berkurang.

Peningkatan Pendapatan

Sebuah studi tahun 2006 Carolina Selatan, misalnya menemukan bahwa untuk setiap 1.000 ton daur ulang sampah perkotaan, ada dampak ekonomi total 236.000 dolar, dengan penerimaan pajak negara tambahan 3,687.48 dolar.

Riset Zero Waste Restaurant merupakan sebuah proyek yang bergerak pada sistem sampah di restoran cepat saji. Proyek ini bertujuan mengetahui jumlah pengeluaran sampah restoran cepat saji, khususnya sampah setelah dilakukan pemilahan. Pemilahan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui jumlah lebih detail sampah yang dihasilkan berdasarkan jenis sampahnya.

Perkumpulan Creata bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Ranting Hijau Universitas Indonesia mengadakan penelitian ZWR selama dua bulan, adapun hasil dari penelitian tersebut dapat dilihat dari ringkasan eksekutif dibawah ini.

eksekutif summary zwr

Persiapan penelitian
Pemilahan sampah bersama Bank Sampah Sukmajaya
zwr-riset
Penimbangan sampah
IMG-20150829-WA0034
Persiapan penelitian

 

 

 

Masuk


Username
Create an Account!
Password
Forgot Password? (close)

Daftar


Username
Email
Password
Confirm Password
Want to Login? (close)

Lupa Pasword?


Username or Email
(close)