oleh: Widhyanto Muttaqien
Dalam studi antropologi politik dan ekonomi, tubuh seorang tokoh adat sering kali menjadi locus perebutan makna. Kasus Mama Yasinta dari komunitas Malind, yang dikenal melalui dokumenter Pesta Babi, membuka ruang refleksi tentang bagaimana figur adat dapat berubah dari individu menjadi simbol, dari suara komunitas menjadi objek representasi publik. Perubahan sikap atau hilangnya komunikasi dengan tokoh semacam ini tidak bisa dibaca semata sebagai pilihan personal. Ia harus dipahami dalam kerangka ekonomi politik, represi aparat, dan komodifikasi simbol perlawanan.
Michael Taussig (1980; 1987) dan Eric Wolf (1982) memberi kerangka teoritis yang kaya untuk membaca fenomena ini. Taussig menekankan bagaimana kapitalisme mengubah cara masyarakat memahami produksi dan kehidupan sosial, sementara Wolf mengingatkan bahwa kelompok adat tidak pernah berada di luar sejarah global. Dengan menggabungkan keduanya, kita dapat melihat bahwa perubahan sikap Mama Yasinta bukan sekadar kisah personal, melainkan jendela untuk memahami bagaimana kapitalisme, negara, dan media bekerja di atas tubuh manusia biasa.
Kapitalisme dan Hilangnya Makna Produksi
Taussig dalam The Devil and Commodity Fetishism in South America (1980) menunjukkan bahwa proletarisasi dan masuknya masyarakat ke dalam sistem kapitalisme tidak hanya mengubah ekonomi, tetapi juga kosmologi. Buruh tambang dan perkebunan di Bolivia dan Kolombia mengasosiasikan kontrak kerja dengan figur setan, karena mereka melihat produksi kapitalistik sebagai sesuatu yang merusak relasi sosial.
Fenomena ini bukan irasionalitas, melainkan bentuk kritik budaya terhadap kapitalisme. Produksi yang sebelumnya terkait kehidupan komunitas berubah menjadi komoditas. Relasi sosial tampak seperti benda alami, padahal merupakan konstruksi sosial (commodity fetishism).
Jika dibawa ke konteks Pesta Babi, maka perubahan sikap Mama Yasinta tidak bisa dilepaskan dari transformasi relasi produksi. Tanah adat, ritual, bahkan tubuh tokoh adat berubah menjadi komoditas politik dan media. Pertanyaan yang relevan bukan lagi “mengapa ia berubah?”, melainkan “struktur sosial apa yang membuat perubahan itu terjadi?”
Dari Individu Menjadi Simbol
Eric Wolf dalam Europe and the People Without History (1982) menolak pandangan bahwa masyarakat adat hidup terisolasi. Mereka selalu berada dalam arus kapitalisme dunia, kolonialisme, dan ekspansi negara.
Ketika seorang tokoh adat seperti Mama Yasinta muncul, ia tidak lagi sekadar individu. Tubuhnya menjadi:
- Representasi komunitas
- Simbol perjuangan
- Objek media
- Target negosiasi
- Sumber legitimasi
Wolf menekankan bahwa kelompok pinggiran sering dipaksa masuk ke relasi kekuasaan yang tidak mereka desain. Tokoh adat harus bernegosiasi dengan perusahaan, negara, aparat, NGO, media, dan pasar sekaligus. Dengan demikian, perubahan sikap Mama Yasinta bisa dibaca sebagai hasil tekanan sejarah, bukan sekadar keputusan personal.
Dalam antropologi feminis, tubuh perempuan sering dipahami bukan sekadar entitas biologis, melainkan locus politik dan simbolik. Judith Butler (1990) dalam Gender Trouble menekankan bahwa tubuh selalu dikonstruksi melalui norma sosial, hukum, dan kekuasaan. Tubuh perempuan adat, seperti Mama Yasinta, tidak hanya menjadi tubuh biologis, tetapi juga tubuh yang diperebutkan oleh negara, pasar, media, dan komunitas.
Ketika Mama Yasinta tampil dalam Pesta Babi, tubuhnya menjadi representasi ganda, sebagai tubuh biologis seorang perempuan adat dengan pengalaman hidup nyata. Sebagai tubuh simbolik yang merepresentasikan ikon perjuangan, penjaga tanah, representasi komunitas. Perubahan sikap atau hilangnya komunikasi dengan figur semacam ini tidak bisa dilepaskan dari beban ganda tersebut (ketika ia bersaksi/membuat testimoni dan pergi ke Polda Metro Jaya). Tubuh perempuan adat sering kali dipaksa menanggung ekspektasi publik yang tidak realistis.
Sementara itu Gayatri Chakravorty Spivak (1988) dalam esai Can the Subaltern Speak? mengingatkan bahwa perempuan dari kelompok pinggiran sering kali tidak berbicara dengan suara mereka sendiri, melainkan melalui representasi yang diproduksi oleh orang lain. Dalam kasus Mama Yasinta, suara yang muncul di ruang publik sering kali bukan suara personalnya, melainkan suara yang diproyeksikan oleh dokumenter, aktivis, atau media.
Hal ini menciptakan paradoks, pertama ketika ia berbicara, publik mendengar suara komunitas, bukan individu. Ketika ia diam, publik menafsirkan diam itu sebagai tanda represi, pengkhianatan, atau perubahan haluan. Dengan demikian, tubuh perempuan adat menjadi locus di mana ekspektasi gender, adat, dan politik bertemu.
Taussig menekankan bahwa kapitalisme memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah simbol menjadi komoditas. Dalam konteks gender, proses ini juga bekerja pada tubuh perempuan, termasuk perempuan adat. Tubuh mereka dapat dijadikan simbol kampanye donor internasional, ikon media dokumenter, figur legitimasi politik lokal, hingga objek eksotisasi budaya. Dengan kata lain, tubuh perempuan adat tidak lagi hanya dipahami sebagai entitas biologis, melainkan sebagai medium representasi yang sarat kepentingan politik, ekonomi, dan budaya. Semakin besar eksposur publik yang diterima, semakin besar pula tekanan yang bekerja pada tubuh tersebut. Karena itu, perubahan sikap Mama Yasinta dapat dibaca bukan semata sebagai keputusan personal, melainkan sebagai bentuk resistensi terhadap komodifikasi tubuhnya, atau sebagai strategi bertahan dalam struktur kekuasaan yang menekan dan terus berusaha mengendalikan ruang gerak perempuan adat.
Represi Aparat dan Produksi Ketakutan
Represi tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan langsung. Antropologi politik menunjukkan bahwa represi dapat berupa pengawasan, ketidakpastian hukum, isolasi politik, kelelahan psikologis, dan produksi rasa takut. Taussig (1992) dalam The Nervous System menulis bahwa kekuasaan modern bekerja melalui ketidakjelasan, hukum dibuat abu-abu untuk bisa dipermainkan. Aparat tidak selalu melarang secara eksplisit, tetapi menciptakan kondisi di mana orang bertanya: “lebih aman diam atau bicara?”
Dalam konteks konflik sumber daya di Papua, represi semacam ini sangat relevan. Ketika seorang tokoh adat memilih diam atau sulit dihubungi, antropologi tidak langsung menyimpulkan pengkhianatan. Ia bertanya: struktur kekuasaan apa yang sedang bekerja?
Film dokumenter seperti Pesta Babi tidak hanya merekam realitas, tetapi juga memproduksinya. Ketika Mama Yasinta ditampilkan sebagai figur perlawanan, publik membangun ekspektasi tertentu: pahlawan, penjaga tanah, simbol adat.
Masalah muncul ketika manusia nyata tidak bergerak sesuai narasi publik. Publik sering sulit menerima tokoh perjuangan yang berubah. Padahal, seperti diingatkan Wolf, manusia selalu berada dalam arus sejarah. Perubahan posisi bisa jadi bukan pengkhianatan, melainkan bukti tekanan historis yang sedang bekerja.
Antropologi feminis di Indonesia menunjukkan bahwa perempuan adat sering kali berada di garis depan perjuangan sumber daya, tetapi sekaligus menghadapi marginalisasi ganda: sebagai kelompok adat dan sebagai perempuan. Studi Tania Li (2007) tentang masyarakat adat di Sulawesi, misalnya, menunjukkan bagaimana perempuan sering menjadi penjaga tanah dan ritual, tetapi jarang diakui dalam negosiasi formal dengan negara atau perusahaan.
Dalam kerangka ini, Mama Yasinta dapat dibaca sebagai figur yang menantang marginalisasi ganda tersebut. Namun, ketika tubuhnya menjadi simbol publik, ia juga menghadapi beban representasi yang tidak ringan. Feminisme poskolonial mengingatkan bahwa beban ini sering kali membuat perempuan adat harus memilih strategi diam, mundur, atau bernegosiasi secara tersembunyi.
Represi aparat terhadap perempuan adat tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik yang kasat mata. Ia sering bekerja secara halus melalui pengawasan terhadap aktivitas sehari-hari, pemberian stigma sosial kepada perempuan yang dianggap “terlalu vokal,” isolasi politik dari komunitas, hingga produksi rasa takut lewat rumor dan intimidasi. Dalam kerangka teoritis Butler dan Taussig, tubuh perempuan menjadi arena di mana kekuasaan beroperasi secara subtil. Karena itu, diam atau perubahan sikap seorang tokoh perempuan adat tidak selalu menandakan penyerahan diri, melainkan bisa dibaca sebagai strategi bertahan dalam situasi represi yang tidak terlihat, di mana tubuh mereka menjadi locus politik yang terus diperebutkan oleh negara, komunitas, dan kapitalisme.
Kesimpulan
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah “mengapa Mama Yasinta berubah?”, melainkan “mengapa publik berharap tokoh adat selalu konsisten sementara struktur di sekitar mereka terus berubah?” Taussig mengajarkan bahwa masyarakat menghadapi kapitalisme dengan menciptakan simbol untuk menjelaskan sesuatu yang terasa tidak alami. Wolf mengingatkan bahwa kelompok pinggiran tidak pernah berada di luar sejarah.
Dengan demikian, perubahan sikap Mama Yasinta dapat dibaca sebagai jendela kecil untuk melihat bagaimana negara, pasar, aparat, media, dan kapitalisme bekerja di atas tubuh manusia biasa. Tubuh seorang perempuan adat menjadi arena perebutan makna, bahkan ketika ia sendiri tidak memilihnya.
Dengan menambahkan perspektif gender, kita melihat bahwa tubuh Mama Yasinta bukan hanya tubuh adat, tetapi juga tubuh perempuan yang diperebutkan. Ia menjadi locus di mana kapitalisme, negara, media, dan adat bertemu. Perubahan sikapnya tidak bisa dibaca semata sebagai pilihan personal, melainkan sebagai hasil dari beban representasi ganda: sebagai perempuan dan sebagai tokoh adat.
Referensi
Butler, J. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. New York: Routledge.
Li, T. M. (2007). The Will to Improve: Governmentality, Development, and the Practice of Politics. Durham: Duke University Press.
Spivak, G. C. (1988). Can the Subaltern Speak? In C. Nelson & L. Grossberg (Eds.), Marxism and the Interpretation of Culture. Urbana: University of Illinois Press.
Taussig, M. (1980). The Devil and Commodity Fetishism in South America. Chapel Hill: University of North Carolina Press.
Taussig, M. (1987). Shamanism, Colonialism, and the Wild Man. Chicago: University of Chicago Press.
Taussig, M. (1992). The Nervous System. New York: Routledge.
Wolf, E. (1982). Europe and the People Without History. Berkeley: University of California Press.









