oleh: widhyanto muttaqien
Dalam kehidupan, manusia menerima berbagai tingkatan anugerah dari Allah. Pertama adalah rezeki, yaitu karunia yang diberikan kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali. Burung memperoleh makanan, tumbuhan mendapatkan air dan cahaya, manusia mendapatkan penghidupan sesuai ketetapan-Nya. Kedua adalah rahmat, kasih sayang Allah yang melingkupi seluruh manusia tanpa membedakan agama, suku, atau golongan. Udara yang dihirup, hujan yang turun, dan bumi yang ditinggali merupakan manifestasi rahmat yang dapat dirasakan oleh semua.
Namun terdapat tingkatan yang lebih tinggi, yaitu hidayah. Hidayah bukan sekadar pemberian, melainkan petunjuk yang mengarahkan manusia pada jalan yang benar. Ia hadir ketika manusia berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui amal saleh, amar ma’ruf nahi munkar, serta kesediaan untuk membaca tanda-tanda kebesaran-Nya dalam kehidupan.
Di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata, ada semacam hidayah yang dapat dimaknai sebagai hidayah ekologis. Hidayah ekologis adalah kesadaran bahwa menjaga alam bukan hanya tindakan teknis, melainkan bagian dari ibadah. Seseorang yang memperoleh hidayah ekologis melihat hutan bukan sekadar sumber kayu, sungai bukan sekadar saluran air, dan tanah bukan sekadar komoditas ekonomi. Ia memandang seluruh ciptaan sebagai amanah yang harus dipelihara.
Ketika rezeki hanya mengajarkan manusia untuk menerima, dan rahmat mengajarkan manusia untuk bersyukur, maka hidayah ekologis mengajarkan manusia untuk bertanggung jawab. Orang yang memperoleh hidayah ekologis tidak akan diam melihat kerusakan lingkungan. Ia terdorong melakukan amar ma’ruf dengan merawat, menanam, melestarikan, serta nahi munkar dengan menolak perusakan, pembakaran hutan, pencemaran sungai, dan eksploitasi yang melampaui batas.
Dengan demikian, hidayah ekologis adalah puncak kesadaran spiritual yang menjembatani hubungan manusia dengan Tuhan melalui kepedulian terhadap alam. Sebab mencintai ciptaan merupakan salah satu cara memuliakan Sang Pencipta. Alam yang lestari bukan hanya hasil kebijakan yang baik, melainkan buah dari hati yang telah mendapatkan petunjuk untuk menjaga keseimbangan kehidupan.

