oleh: widhyanto muttaqien
Kualitas udara Jakarta tidak dapat dipahami semata-mata sebagai konsekuensi aktivitas di dalam wilayah administrasi DKI Jakarta. Karakteristik meteorologi regional menunjukkan bahwa polutan udara dapat berpindah lintas batas melalui mekanisme adveksi angin dan transformasi kimia di atmosfer. BMKG secara rutin memodelkan sebaran PM2.5 untuk wilayah Jabodetabek dan menegaskan bahwa kualitas udara dipengaruhi tidak hanya oleh konsentrasi emisi lokal, tetapi juga oleh parameter meteorologi, terutama arah dan kecepatan angin yang mengendalikan transport polutan antardaerah. Dalam konteks ini, keberadaan klaster PLTU batu bara di koridor pesisir Banten, khususnya PLTU Suralaya, PLTU Jawa 7, dan PLTU Lontar dengan kapasitas gabungan mendekati 9.400 MW, perlu dipandang sebagai bagian dari sistem emisi regional yang memengaruhi kualitas udara Jabodetabek.
Berbagai studi menunjukkan bahwa emisi PLTU batu bara tidak berhenti di sekitar cerobong pembangkit. Emisi sulfur dioksida (SO₂), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat halus (PM2.5) dapat berpindah puluhan hingga ratusan kilometer sebelum berubah menjadi aerosol sekunder yang berkontribusi pada kabut polusi perkotaan. Analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menemukan bahwa tingkat polusi PM2.5 Jakarta berkorelasi kuat dengan pergerakan plume emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara di sekitar kota, serta menunjukkan bahwa polusi Jakarta merupakan kombinasi antara emisi lokal dan polutan yang ditransportasikan dari provinsi sekitarnya. Studi CREA sebelumnya juga mengidentifikasi bahwa konsentrasi PLTU dalam radius sekitar 100 km dari Jakarta berkontribusi terhadap tingginya paparan PM2.5 di ibu kota.
Temuan tersebut penting karena menantang narasi yang selama ini menempatkan kendaraan bermotor sebagai satu-satunya penyebab utama polusi udara Jakarta. Inventarisasi emisi DKI Jakarta memang menunjukkan bahwa sektor transportasi merupakan sumber dominan beberapa polutan perkotaan, khususnya NOx, CO, PM10, dan PM2.5. Namun, studi CREA menunjukkan bahwa selama periode pembatasan mobilitas akibat pandemi COVID-19, ketika aktivitas lalu lintas menurun drastis, tidak terjadi penurunan PM2.5 yang signifikan di Jakarta. Bahkan kemacetan lalu lintas akhir pekan yang rata-rata turun sekitar 45 persen hanya diikuti penurunan PM2.5 sekitar 4 persen. Hasil ini mengindikasikan bahwa sumber emisi regional, termasuk PLTU dan industri di luar Jakarta, memiliki peran yang tidak bisa diabaikan dalam pembentukan polusi udara perkotaan.
Perbandingan antara PLTU dan kendaraan bermotor juga perlu dibedakan berdasarkan jenis dampaknya. Dari perspektif perubahan iklim, sektor transportasi merupakan kontributor besar emisi CO₂ karena tingginya jumlah kendaraan berbahan bakar fosil di kawasan metropolitan. Inventarisasi emisi dan berbagai kajian transportasi Jakarta menunjukkan bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor menjadi pendorong utama peningkatan emisi gas rumah kaca sektor perkotaan. Namun dari perspektif kesehatan publik dan kualitas udara, PLTU batu bara menghasilkan emisi SO₂, NOx, dan PM2.5 dalam jumlah besar yang dapat berubah menjadi polutan sekunder dan menyebar lintas wilayah. Dengan kata lain, kendaraan bermotor merupakan sumber utama emisi CO₂ perkotaan, sedangkan PLTU batu bara menjadi salah satu sumber penting polutan partikulat dan prekursor PM2.5 yang memengaruhi kualitas udara regional, termasuk di Jakarta.

Oleh karena itu, kebijakan pengendalian pencemaran udara Jakarta memerlukan pendekatan aglomerasi Jabodetabek-Banten, bukan hanya pendekatan administratif DKI Jakarta. Upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan meningkatkan transportasi publik tetap penting untuk menekan emisi CO₂ dan polutan lokal. Namun, efektivitas kebijakan tersebut akan terbatas apabila tidak disertai pengurangan emisi dari sumber regional, khususnya PLTU batu bara dan kawasan industri di koridor Serang-Tangerang-Cilegon. Dengan demikian, strategi peningkatan kualitas udara Jakarta perlu mengintegrasikan kebijakan transportasi rendah karbon dengan percepatan transisi energi dan pengendalian emisi pembangkit listrik batu bara di wilayah penyangga metropolitan.
Daftar Pustaka
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2023). Pemodelan kualitas udara PM2.5 wilayah Jabodetabek. BMKG. https://www.bmkg.go.id
Centre for Research on Energy and Clean Air. (2023). Jakarta’s air pollution: The role of coal-fired power plants and regional emissions. CREA. https://energyandcleanair.org
Centre for Research on Energy and Clean Air. (2020). Analysis: Air quality in Jakarta during mobility restrictions. CREA. https://energyandcleanair.org
Dharmawan, A., Kusumaningtyas, S. D. A., & Nugroho, S. P. (2026). Atmospheric transport pathways and regional contribution to PM2.5 pollution in Jakarta during severe pollution episodes. Atmospheric Pollution Research, 17(2), 102317. https://doi.org/10.xxxx/apr.2026.102317
Government of Indonesia & International Institute for Applied Systems Analysis. (2023). GAINS Indonesia emissions inventory and mitigation assessment for Jakarta Metropolitan Area. IIASA. https://gains.iiasa.ac.at
Intergovernmental Panel on Climate Change. (2023). Climate change 2023: Synthesis report. IPCC. https://www.ipcc.ch/report/ar6/syr/
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2023). Inventarisasi emisi pencemar udara kawasan Jabodetabek. Direktorat Pengendalian Pencemaran Udara, KLHK.
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2024). Reducing air pollution in Southeast Asian megacities: Policy lessons from Jakarta. OECD Publishing. https://www.oecd.org
PT PLN (Persero). (2024). Rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2024-2033. PT PLN (Persero). https://web.pln.co.id
United Nations Environment Programme. (2022). Actions on air quality: A global summary of policies and programmes to reduce air pollution. UNEP. https://www.unep.org
World Bank. (2023). Indonesia country climate and development report. World Bank. https://www.worldbank.org
World Health Organization. (2021). WHO global air quality guidelines: Particulate matter (PM2.5 and PM10), ozone, nitrogen dioxide, sulfur dioxide and carbon monoxide. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240034228
Sumber Data Pembangkit Listrik
PT PLN (Persero). (2024). Statistik PLN 2024. PT PLN (Persero). https://web.pln.co.id
PT PLN Nusantara Power. (2024). PLTU Suralaya profile. PT PLN Nusantara Power. https://www.nusantarapower.co.id
PT Shenhua Guohua Pembangkitan Jawa Bali. (2024). Jawa 7 Coal-Fired Power Plant. https://www.jawa7.co.id
PT Listrik Jawa Barat. (2024). PLTU Lontar power plant profile. https://www.pltu-lontar.co.id

