Lima Gagasan Arturo Escobar tentang Pluriverse

oleh Widhyanto Muttaqien

Krisis global saat ini, mulai dari perubahan iklim yang kian ekstrem, ketimpangan ekonomi yang makin curam, hingga krisis makna hidup membuat banyak dari kita merasa terdesak dan terjebak. Kita sering diyakinkan bahwa sistem kapitalisme modern yang eksploitatif adalah satu-satunya realitas yang harus diterima secara wajar, meskipun sistem tersebut terus merusak planet dan mengikis ikatan sosial kita. Dalam bukunya,  Pluriversal Politics: The Real and the Possible, pemikir dan antropolog Arturo Escobar menawarkan pintu keluar yang radikal. Ia menegaskan bahwa slogan terkenal dari World Social Forum,  “Dunia lain itu mungkin”  ( Another world is possible ), harus diperdalam menjadi sebuah premis yang lebih mendasar:  “Dunia lain itu mungkin karena realitas lain itu mungkin”  (Another world is possible because another reality is possible).

Untuk benar-benar keluar dari krisis peradaban ini, kita tidak bisa lagi menggunakan pola pikir yang melahirkannya. Artikel ini membedah 5 gagasan paling mengejutkan dan kontraintuitif dari Arturo Escobar tentang bagaimana kita dapat meruntuhkan anggapan tunggal “satu dunia” demi merajut kembali realitas yang majemuk, yaitu  Pluriverse .

 “Sentipensar” – Berpikir Menggunakan Perasaan

Langkah pertama untuk memahami realitas baru adalah mengadopsi konsep  Sentipensar  (feeling-thinking  atau merasakan dengan berpikir). Konsep ini mengajak kita untuk mengetahui dan memahami dunia melalui sebuah cara yang tidak memisahkan antara pikiran dan perasaan, rasio dan emosi, atau antara pengetahuan dan kepedulian ( care ). Selama berabad-abad, pandangan Barat modern mengondisikan kita untuk percaya bahwa manusia (subjek) terpisah secara tegas dari alam (objek). Ilusi dualis subjek-objek ini menempatkan manusia sebagai pengamat netral yang merasa berhak mengontrol, menguasai, dan mengeksploitasi alam demi akumulasi modal. Escobar menegaskan bahwa pemisahan buatan ini adalah akar dari kerusakan lingkungan global dan alienasi sosial modern.

“Reality is a proposition that we use as an explanatory notion to explain our experiences. Moreover, we use it in different ways according to our emotions.” — Humberto Maturana

Untuk memperjelas perbedaan ontologis ini, kita dapat membandingkan dua cara pandang mendasar dalam memahami keberadaan.

Pertama, menganggap manusia dan alam, pikiran dan tubuh, serta subjek dan objek sebagai entitas terpisah yang berdiri sendiri. Pendekatan objektivasi ini melahirkan obsesi untuk mengontrol dan mengeksploitasi realitas eksternal demi pertumbuhan tanpa batas. Pendekatan ini oleh Escobar disebut ontologi dualisme.

Kedua, memahami bahwa tidak ada entitas yang memiliki keberadaan terpisah secara intrinsik. Seluruh kehidupan saling terhubung, saling membentuk, dan saling bergantung (interbeing ) dalam jaring-jaring kehidupan yang tak terputus. Escobar menyatakan hal ini sebagai keterhubungan radikal.

Bahaya Mitos  One-World World  (OWW) dan Kebangkitan  Pluriverse

Sosiolog John Law memperkenalkan istilah  One-World World  (OWW)—sebuah anggapan kolonial bahwa hanya ada satu dunia nyata yang divalidasi oleh sains dan rasionalitas Barat. Dalam tatanan OWW, cara pandang dan cara hidup masyarakat non-Barat kerap direduksi dan diremehkan sekadar sebagai “kepercayaan”, “mitos”, atau “tradisi lokal” yang tidak ilmiah. Sebaliknya, Escobar memajukan konsep  Pluriverse , sebuah gagasan yang terinspirasi langsung dari slogan gerakan Zapatista, yaitu  “A world where many worlds fit”  (sebuah dunia di mana banyak dunia bisa hidup berdampingan). Pluriverse secara tegas menolak gagasan bahwa ada satu universalitas tunggal yang berhak mengatur seluruh kehidupan di planet ini. “The differences are not simply matters of belief. They are also a matter of reals.” — John Law. Pluriverse bukanlah sekadar teori akademis yang abstrak, melainkan praktik hidup sehari-hari. Gagasan ini dihidupkan secara nyata oleh masyarakat adat, komunitas lokal, dan gerakan akar rumput yang mempertaruhkan wilayah mereka dari ekspansi proyek ekstraktif demi mempertahankan keberagaman cara hidup mereka sendiri.

“Pembebasan Ibu Bumi”

Pelajaran paling radikal mengenai politik ontologis datang dari masyarakat adat Nasa di wilayah  Cauca Utara,  Kolombia. Melalui gerakan mereka yang mengusung prinsip  La Liberación de la Madre Tierra  (Pembebasan Ibu Bumi), masyarakat Nasa membalikkan logika politik modern yang antroposentris dan berpusat pada manusia semata. Poin kontraintuitif dari pemikiran masyarakat Nasa adalah manusia tidak akan pernah bisa merdeka selama Bumi—yang mereka sapa sebagai  Uma Kiwe —masih diperbudak dan dieksploitasi oleh sistem kapitalisme. Pembebasan manusia dan pembebasan Bumi adalah satu kesatuan entitas yang tidak dapat dipisahkan.

“Debarbedwiring (membebaskan dari kawat duri/tanpa kawat duri) dari  the heart means debarbedwiring Mother Earth. Who would have believed it: heart and earth are one and the same being… We peoples are all slaves, along with the animals and living beings, until we can help our mother regain her freedom.” — Deklarasi Masyarakat Adat Nasa. Gagasan ini menggeser fokus kita secara drastis, dari sekadar “pelestarian lingkungan” atau “pembangunan berkelanjutan” teknokratis menjadi sebuah politik ontologis yang membebaskan. Ini adalah panggilan untuk memulihkan kembali ikatan emosional, spiritual, dan etis kita dengan  Uma Kiwe  serta seluruh jaring kehidupan di Bumi.

Politik dalam Nada Feminin ( Politics in the Feminine ) vs. Pedagogi Kekejaman

Melalui analisis antropolog Rita Segato dan pemikiran matristik (seperti yang dikembangkan oleh Maturana dan Verden-Zöller), terlihat jelas bagaimana sistem patriarki kapitalistik mengajarkan “pedagogi kekejaman” ( pedagogy of cruelty ). Pedagogi ini melatih masyarakat untuk merusak ikatan komunitas, mengeksploitasi tubuh, dan mengorbankan hubungan antarmanusia demi pemupukan modal serta kontrol hierarkis. Matristik (sering diajukan sebagai pasangan istilah patristik) adalah bidang kajian yang meneliti kehidupan, karya tulis, pemikiran, dan kontribusi teologis para perempuan dalam gereja Kristen awal. Bidang ini berupaya menyoroti peran yang sering terabaikan dari para tokoh perempuan dalam pembentukan tradisi dan doktrin Kristen.

Depatriarkalisasi dan dekolonisasi bersamaan (Simultaneous Depatriarchalization and Decolonization) merupakan prinsip teoretis-politik yang menegaskan bahwa pembongkaran tatanan kapitalisme modern tidak mungkin dicapai tanpa meruntuhkan struktur patriarki dan kolonialisme secara bersamaan. Arturo Escobar dan para pemikir feminis dekolonial menjelaskan bahwa patriarki bukan sekadar isu kesetaraan gender liberal, melainkan matriks ontologis-epistemologis tertua yang mengikis basis relasional kehidupan dengan memaksakan logika dominasi, kompetisi, hierarki, dan kepemilikan. Kekerasan patriarkal dan rasial—seperti kekerasan terhadap tubuh perempuan dan penggusuran wilayah—bekerja sebagai “pedagogi kekejaman” untuk menghancurkan ikatan komunal demi akumulasi modal

Sebagai tandingannya, Escobar menyoroti pentingnya  Politik dalam Nada Feminin  (Politics in the Feminine). Politik ini tidak berfokus pada perebutan kekuasaan negara atau dominasi kelembagaan, melainkan pada pemulihan ikatan komunitas, perawatan kehidupan (care), serta pemulihan keutuhan ontologis masyarakat lokal. “To choose the relational path is to opt for the historical project of being community… La estrategia a partir de ahora es femenina the strategy, from now on, is a feminine one.” — Rita Segato. Politik feminin ini berakar pada praktik-praktik relasional yang sering kali dipimpin oleh perempuan di ranah komunitas. Logika ini memprioritaskan reproduksi dan keberlanjutan kehidupan di atas akumulasi barang, serta memulihkan ruang komunal sebagai pusat perlawanan politik yang sejati.

Tiga Pilar Utama Transisi Peradaban

Untuk keluar dari jebakan modernitas tanpa terjebak pada tuduhan bahwa gerakan ini “romantis” atau “tidak realistis”, Escobar menawarkan kerangka desain transisi peradaban. Transisi ini bertumpu pada tiga pilar aksi utama untuk mengaktifkan kembali kapasitas swa-organisasi (autopoiesis) masyarakat. Pertama, rekomunalisasi kehidupan sosial (Recommunalization) yang bertujuan membendung dominasi individualisme ekstrem dan tatanan pasar modern yang mengisolasi manusia menjadi individu otonom yang terpisah dari ekosistemnya. Dalam tatanan kapitalisme modern, hubungan komunal sengaja dikikis dan digantikan oleh logika kompetisi pasar, rekomunalisasi hadir untuk memulihkan kapasitas otopoietik (autopoiesis) komunitas—yakni kemampuan mandiri untuk terus-menerus merawat, memperbarui, dan menata kehidupan bersama secara saling bergantung (radically interdependent). Arturo Escobar menegaskan bahwa proses ini mengakar pada ontologi relasional dan tradisi leluhur (seperti kosmologi adat dan kebudayaan matristik), dimana tidak ada pemisahan kaku antara individu dan komunitas maupun antara manusia dan alam. Dengan menempatkan etika kepedulian (ethics of care) dan pengelolaan barang milik bersama (commons) di atas akumulasi modal, rekomunalisasi menjadi fondasi utama untuk menyembuhkan hubungan sosial dan membangun kembali kehidupan yang berakar pada kebersamaan.

Kedua, relokasi aktivitas (Relocalization) berfokus pada pengembalian pusat-pusat produksi pangan, energi, kesehatan, tempat tinggal, hingga kegiatan ekonomi ke skala lokal dan regional demi memutus ketergantungan pada rantai pasok global yang ekstraktif dan merusak lingkungan. Langkah ini menjadi perlawanan nyata terhadap tatanan tunggal “Satu Dunia” (One-World World) yang memaksakan model pembangunan homogen dan mengeksploitasi wilayah demi pasar kapitalis global. Melalui relokasi, komunitas mempromosikan moda kehidupan yang konvivial (convivial modes of living– istilah konvivial berasal dari kata Latin convivere yang berarti hidup bersama. Dalam pemikiran sosial kontemporer, terutama pada karya Ivan Illich (Tools for Conviviality), konvivialitas merujuk pada kondisi ketika manusia dapat menggunakan alat, institusi, dan teknologi untuk memperkuat otonomi, kreativitas, dan hubungan sosial, bukan menjadi tergantung atau didominasi olehnya), kedaulatan pangan berbasis agroekologi, serta ekonomi solidaritas yang berakar pada karakteristik spesifik wilayah mereka. Pendekatan ini berdialog erat dengan wacana transisi peradaban global, seperti Buen Vivir (Hidup Baik) dan pasca-ekstraktivisme di Selatan Global serta degrowth di Utara Global, yang kesemuanya mengajak manusia untuk kembali sentipensar (merasakan-memikirkan) bersama Bumi dan menjaga keberlanjutan jaringan kehidupan.

Ketiga, otonomi lokal dan demokrasi langsung (Autonomy), berupaya memperkuat kapasitas swa-organisasi kolektif agar komunitas mampu mengambil keputusan secara mandiri dari bawah (from below), sekaligus mengikis ketergantungan pada teknokrat, pakar eksternal, dan birokrasi negara yang sering kali memaksakan norma-norma terpusat. Otonomi merupakan praksis politik-ontologis untuk merevaluasi pengetahuan lokal dan ingatan leluhur (ancestralidad) yang selama ini dipinggirkan oleh ilmu pengetahuan Eurosentris. Sebagaimana dicontohkan oleh praksis otonomi Zapatista melalui prinsip mandar obedeciendo (memerintah dengan mematuhi) dan gerakan masyarakat adat Nasa melalui Pembebasan Ibu Bumi (Uma Kiwe), otonomi tidak sekadar menolak kontrol negara dan modal, melainkan menciptakan ruang bagi komunitas untuk menentukan “Rencana Hidup” (Life Plans) mereka sendiri secara horizontal. Melalui otonomi lokal, terbentuk jaring-jaring (meshworks) antar-komunitas yang saling terhubung secara rhizomatik untuk mewujudkan pluriversum—sebuah dunia di mana banyak dunia dapat berdampingan.

Krisis ekologi dan sosial yang kita hadapi hari ini sejatinya adalah sebuah krisis model peradaban ( civilizational crisis ). Kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan krisis planet ini jika masih mengandalkan kategori berpikir yang melahirkannya—seperti pertumbuhan ekonomi tanpa batas, komodifikasi alam, dan obsesi pada kontrol manusia atas alam. Sudah saatnya kita membongkar asumsi “realistis” yang dipaksakan oleh tatanan  One-World World. Keberanian untuk membayangkan realitas yang berbeda dan mempraktikkan relasionalitas radikal dalam kehidupan sehari-hari adalah kunci utama untuk merajut kembali dunia kita yang sedang terluka.

Apakah kita berani melepaskan obsesi untuk menguasai alam dan mulai belajar kembali cara hidup yang saling terhubung di Bumi?

Comments

comments