ZeeWee

Zero Waste Event

oleh: widhyanto muttaqien

ZeeWee atau kependekan dari Zero Waste Event adalah sebuah acara dimana organisator acara merencanakan mengurangi limbah padat dari acara tersebut sejak awal, menggunakan kembali berbagai elemen seperti spanduk, brosur, poster. Dan menyediakan tempat untuk bahan-bahan daur ulang dan kompos seperti cangkir kertas, sisa makanan, dan botol air plastik yang dihasilkan oleh acara tersebut.

Pencegahan limbah sejak awal acara

  1. Mengurangi iklan acara dalam bentuk barang cetakan (printed material).
  2. Menghilangkan kupon atau tiket kertas, ganti dengan gimmick yang bisa dipindai sekaligus dijadikan souvenir. Atau gunakan tiket yang bisa menjadi pembatas buku.
  3. Menghilangkan distribusi air minum kemasan (plastik) komersial dalam mendukung stasiun air curah (baca: gunakan air galon) dan cangkir daur ulang.
  4. Membeli produk konten daur ulang, untuk kebutuhan acara (seperti hadiah, seminar kit).
  5. Memberikan masukan diskon atau insentif bagi peserta yang melakukan perjalanan ke acara menggunakan transportasi alternatif (motor atau mobil listrik dan sepeda).

 

 

conserve
Poster yang menarik dapat dijadikan gimmick Sumber: http://www.desainic.com/23-contoh-poster-desain-keren-dan-kreatif/
Tas Belanja dari bahan daur ulang (upcycling) yang menjadi sovenir dalam setiap acara Creata
Tas Belanja dari bahan daur ulang (upcycling) yang menjadi sovenir dalam setiap acara Creata

Gunakan produk yang bisa dipakai ulang

  1. Sekarang banyak produk sekali pakai untuk penyelenggaraan acara, seperti spanduk, baliho, brosur atau tanda-tanda yang menunjukan arah tempat acara. Gunakan desain dengan membuat panel tahun dan tema acara yang dapat diganti untuk tahun-tahun berikutnya.
  2. Gunakan desain yang menarik dan tahan lama agar beberapa poster atau brosur menarik untuk diabadikan (baca: dijadikan kenang-kenangan).
  3. Gunakan piring dan gelas (peralatan makan) dari plastik atau keramik yang dapat digunakan kembali.
  4. Banyak sekali restoran dan kafe yang masih menggunakan saos, gula, garam, dalam sachet. Dalam ZeeWee hal itu tidak berlaku. Gunakan wadah yang aman dan bersih yang dapat dipakai berkali-kali.

Tim Hijau

  1. Atur tim kerja yang disebut ‘Tim Daur Ulang’ yang memiliki dedikasi on site sepanjang acara untuk mengawasi stasiun daur ulang dan memilah bahan yang didaur-ulang dan meminimalkan risiko kontaminasi (baca: selain bau tak sedap, kemungkinan pencemaran dihindari).
  2. Sebarkan kepada calon pengunjung, ‘apa yang boleh dibawa’ terkait gaya hidup hijau.
  3. Gunakan kejutan dalam memberikan hadiah kepada mereka, anggota tim Anda dan pengunjung, yang kreatif dan berinisiatif ‘menghijaukan’ acara.

 

Keep smile and be creative!

Novel dan Puisi Apa yang dibaca Politisi Kita?

oleh:

Imam Baehaqie Abdullah

Apakah karya sastra sanggup mengubah dunia? Yann Martel, penulis novel Life of Pi—yang difilmkan sutradara Ang Lee dan meraih Piala Oscar baru-baru ini, meyakini kekuatan literer tersebut. Lantaran itulah, selama tiga tahun ia tak bosan-bosan mengirimkan novel, kumpulan puisi, maupun drama kepada Stephen Harper, Perdana Menteri Kanada.

Kisah The Life of Pi
Kisah The Life of Pi, ditulis oleh Yann Martel, difilmkan oleh Ang Lee

 

Secara teratur ia mengirim karya sastra kepada Harper dengan maksud untuk “mendidik”-nya perihal tradisi sastra berbahasa Inggris yang begitu luas. Mungkin langkah Martel itu terkesan kurang ajar, terbukti ia tidak memperoleh satu pun surat balasan. Walau barangkali, niat Martel baik, mempromosikan karya sastra kepada orang-orang yang sehari-hari lekat dengan kehidupan politik. Tambahan pula, ia mendengar Harper menyebutkan bahwa buku favoritnya adalah The Guinness Book of Records.

Karena tak berbalas, Martel kini punya buku baru. Surat-suratnya kepada Harper rupanya diterbitkan menjadi sebuah buku. Dalam buku berjudul 101 Letters to a Prime Minister itu, Martel mengatakan salah satu buku yang ia kirimkan kepada sang perdana menteri ialah To Kill a Mockingbird, karya mashur Harper Lee. “Saya mengirim 101 buku kepadanya, dan ia tidak menulis satu suratpun kepadaku,” kata Martel.

Martel mengaku, sebenarnya ia tak mau tahu apa yang dibaca orang lain.

Masalahnya menjadi lain ketika orang lain tersebut terjun ke politik dan berkuasa. “Begitu seseorang berkuasa atas diri saya, seperti Stephen Harper,” kata Martel, “saya berkepentingan untuk mengetahui watak dan kualitas imajinasinya, sebab mimpi-mimpinya bisa menjadi mimpi buruk bagi saya.”

Sebagai warga Kanada, Martel mengaku tergetar oleh komentar Presiden AS Barack Obama setelah membaca karyanya, Life of Pi. Obama menulis surat dengan tulisan tangan kepada Martel dan mengakui “Life of Pi adalah bukti elegan keberadaan Tuhan dan kekuatan bercerita.”

Barack Obama rajin mengunjungi toko buku dan memotivasi anak usia sekolah dasar untuk cinta buku
Barack Obama rajin mengunjungi toko buku dan memotivasi anak usia sekolah dasar untuk cinta buku

Lalu kenapa ia tetap mengirimi Harper surat dan buku-buku walau tidak berbalas? Sebab Martel meyakini bahwa pemimpin dunia yang tidak membaca, atau tidak ingin mengetahui tentang orang lain—artinya, pengalaman atau kehidupan yang sangat berbeda dari dirinya—akan punya visi yang membutakan. “Fiksi adalah cara terbaik untuk mengeksplorasi yang lain,” kata Martel.

Obama sendiri, selain membaca karya Martel, juga membaca karya-karya Mark Twain, puisinya Ralph Waldo Emerson (laiknya mendiang Presiden John Kennedy menyukai syair Robert Frost), Cancer Ward-nya Alexander Solzhenitsyn, dan yang menjadi favoritnya ialah karya mashur Toni Morrison, Song of Solomon. Karya yang memadukan puisi, nyanyian, dan prosa tradisional ini menjadi novel liris yang mengilhami Obama.

Vladimir Putin, Presiden Rusia, memiliki kesukaan lain. Penguasa Rusia ini menyukai novel-novel Jack London, Jules Verne, serta Ernest Hemingway karena mengisahkan petualangan manusia. Karakter-karakter yang dilukiskan dalam buku-buku mereka, kata Putin, membentuk inner self dirinya dan membangkitkan kecintaan Putin kepada dunia luar. “Mereka karakter pemberani,” ujarnya.

Putin juga seorang pembaca, terutama sastra klasik
Putin juga seorang pembaca, terutama sastra klasik

Apa saja karya sastra yang dibaca oleh para politisi di Indonesia hari ini? Entahlah, saya tak pernah mendengar cerita tentang hal itu.

Ya….kita memang bisa bersikap acuh tak acuh perihal apakah mereka membaca atau tidak, atau membaca apa, atau membaca karya sastra siapa. Tapi, meminjam perkataan Martel, “Begitu seseorang berkuasa atas diri saya, saya berkepentingan untuk mengetahui watak dan kualitas imajinasinya, sebab mimpi-mimpinya bisa menjadi mimpi buruk bagi saya.

Diskusi Rencana Tindak Lanjut Hasil Riset ZWR

oleh:

Hilmiyah Tsabitah dan Parama Mahardikka

 

Diskusi grup terfokus ini merupakan presentasi laporan program restoran nol limbah (zero waste restaurant) yang telah dilakukan CREATA dan UKM UI Ranting Hijau di restoran L yang berada di Margo City, Depok, Jawa Barat. Diskusi ini dilaksanakan di Bank Sampah Sukmajaya, Depok, Jawa Barat pada hari Kamis, 25 Februari 2016 yang bekerjasama dengan Bank Sampah Sukmajaya Depok serta dihadiri oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan, dan Badan Lingkungan Hidup Kota Depok. Narasumber dari diskusi ini adalah Parama Maharddhika dan Hilmiyah Tsabitah dari CREATA.

 

IMG-20160225-WA0011-2
Suasana diskusi sosialisasi awal hasil riset ZWR ke para pihak

 

 

Proses diskusi ini berjalan dengan lancar, hal ini dapat dilihat dari banyaknya tanggapan dan masukan dari para peserta. Presentasi yang disampaikan antara lain adalah proses kegiatan restoran nol limbah termasuk pemilahannya, temuan potensi reduksi sampah hingga 84,7 %, dan rekomendasi yang disampaikan dari CREATA. Dari program awal ini, diharapkan mampu menjadikan titik awal program – program serupa yang dilakukan ditempat lain.

 

IMG-20160225-WA0006
Para pemangku kepentingan yang hadir antara lain, BLH Kota Depok, DKP Kota Depok, Asosiasi Bank Sampah Kota Depok

 

Rekomendasi dari CREATA sebagai hasil dari program restoran nol limbah pertama ini antara lain adalah; penyusunan SOP pemilahan sampah yang jelas untuk restoran, edukasi karyawan restoran untuk memilah sampah, perlunya sosialisasi dan kampanye edukasi pemilahan sampah dari pihak Pemerintah Daerah (Kota Depok), dan riset aksi berupa pendampingan kepada restoran – restoran peserta program ini.

Urban Commons: Menemukan kembali tanggung jawab pengelolaan lingkungan

LAPORAN ROUNDTABLE I. URBAN COMMONS

oleh:

Hilmiyah Tsabitah

LATAR BELAKANG

Commons Indonesia adalah jejaring dari para pemerhati isu-isu sumber daya bersama (common-pool resources). Dibentuk pasca IPB menjadi tuan rumah dari konferensi global dua tahunan dari International Association for the Study of the Commons (IASC, sebelumnya IASCP) pada tahun 2006, salah satu kegiatan rutinnya saat ini adalah bedah jurnal dari International Journal of the Commons (IJC) dan diskusi serial terkait isu kekinian tentang the Commons dan pengelolaannya. Setelah menggelar diskusi serial pertama dengan sumber daya yang diangkat adalah hutan pada tanggal 23 Januari 2015, serial diskusi berikutnya dilaksanakan pada 22 Mei 2015 dengan topik sumber daya kelautan. Keduanya merupakan bagian dari “The Big Five” dalam studi The Commons.

Pada diskusi serial kali ini, Commons Indonesia mengangkat isu sumber daya bersama pada kawasan perkotaan (urban commons) dan perubahan iklim. Urban commons dan perubahan iklim memang bukan termasuk topik konvensional dalam studi the Commons, tetapi menjadi bagian dari the new commons dan sebagai bagian dari sumber daya bersama, ia memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup manusia. Diskusi dipimpin oleh moderator, Arief rahman dari P4W – LPPM IPB. Diskusi dilakukan dengan menghadirkan tiga pembicara yaitu, Marco Kusumawijaya (direktur Rujak Center and Urban Studies), Machmud Arifin Raimadoya (staf pengajar penginderaan jauh IPB), dan Fajri Mulya Iresha (Perkumpulan Creata).

 

Pembicara 1:

 

Marco Kusumawijaya membuka diskusi dengan memberikan pemaparan singkat tentang pengertian dan pandangan secara filsafat dari urban commons. Commons merupakan sesuatu yang dapat berupa budaya atau sumber daya. Kota dalam suatu bentuk dimana tidak ada manusia, kemudian suatu kali diciptakan manusia, maka kota merupakan commons bagi spesies baru. Spesies manusia juga merupakan commons. Karena merupakan makhluk bertulang belakang yang satu-satunya memiliki kesadaran dibandingkan makhluk lainnya. Commons, selain tentang kesadaran, tapi juga tentang rasa sebagai komunitas yang memiliki kesadaran bersama. Contohnya adalah masyarakat suku Kajang yang memiliki aturan bahwa sumber air tidak boleh dimiliki perorangan.

 

Dalam sebuah Negara, commons juga dimiliki oleh masyarakat di pulaunya masing-masing. Commonsnya menjadi terpecah belah. Baik commons berupa budaya, potensi, sumber daya alam, sikap, dan lainnya. misal aceh yang merasadekat dengan masyarakat papua. Commons berupa komunitas dapat menjadi fungsi kritik terhdap Negara, pasar, atau hasrat pribadi. Namun, sistem kapitalisasi di Negara ini terpecah belah karena masuknya sistem kapitalisasi. Akibatnya, unsur yang semula harus dipakai bersama menjadi ada upaya privatisasi. Akibatnya commons tidak dapat lagi dimiliki bersama. UUD mengatakan bahwa seluruh kekayaan alam dipelihara oleh Negara untuk kesejahteraan bersama. Namun, pada kenyataannya banyak pihak yang melakukan privatisasi terhadap alam. Commons merupakan suatu proses menjadi (sesuatu yang dibentuk), bukan sesuatu yang sudah ada. Oleh karena itu, pembangunan suatu budaya atau Negara disebut communing. Urban commons adalah kehadiran masyarakat yang baru diantara masyarakat lokal, sedangkan manusia secara umum merupakan commons dari seluruh spesies lain.

 

Pembicara 2:

Machmud Raimodya memberikan sudut pandang bumi sebagai commons. Justifikasi masalah commons berada di sains. Selanjutnya aspek lainnya adalah politik, kemudian setelah itu ekonomi. Contohnya adalah bagaimana proses justifikasi bumi itu bulat berdasarkan sains. Pertama kali ilmuwan sains mengatakan bumi itu lurus, atau memiliki ujung. Namun hal tersebut dibuktikan dengan sains, ternyata ketika kita berjalan lurus, maka kita akan sampai hingga titik semula. Pengembangan sains selanjutnya terus berkembang hingga ditemukanlah teknologi roket yang dapat menembus atmosfer dan meletakkan satelit, kemudia melalui satelit itulah, dapat dibuktikan bahwa bumi itu berbentuk bulat. Perkembangan sains melalui teknologi kameranya pun semakin berkembang, hingga akhirnya dapat melihat struktur pulau yang berada di bumi. Teknologi satelit dengan kamera yang semakin canggih terus berkembang, tujuannya adalah agar manusia mendapat perspektif yang utuh tentang bumi. Semua manusia di bumi merupakan pilot, tidak ada yang hanya sebagai penumpang. Oleh karena itu, apa yang kita lakukan terhadap bumi pastilah akan memberikan pengaruh. Jika melihat ke dalam sistem bumi, the commons dibagi menjadi lima yaitu, sila pertama adalah atmosfer, sila kedua adalah kremosfer, sila ketiga adalah eutrosfer (semua bagian yang selalu bergerak seperti air, darat, dan lainnya), sila keempat adalah geosfer (padatan bumi), sila kelima adalah biosfer (makhluk hidup yang berada di bumi).

 

Pembicara 3:

Fajri menjelaskan tentang aplikasi the commons, sampah yang perlu diselesaikan dengan bijak. Selama ini, sampah menjadi permasalahan yang cukup kompleks. Sampah sebagai the commons, yaitu sebagai permasalahan yang perlu ditangani bersama. Salah satu cara yang perlu dilakukan untuk mengurangi pengeluaran sampah adalah mengubah paradigma masyarakat terhadap sampah maupun melalui kebijakan pemerintah, misalnya di Inggris, pemerintahnya membuat kebijakan berbayar terhadap setiap sampah yang dikeluarkan. Atau Depok yang belum lama ini mengeluarkan peraturan daerah mengenai pemilahan sampah. Adapun perubahan paradigma pengelolaan sampah telah berhasil dilakukan terhadap masyarakat yaitu membuat nilai terhadap sampah. Contohnya, menukarkan sampah denan sesuatu yang mereka butuhkan, baik berupa uang, obat-obatan, makanan, atau yang lainnya yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ternyata cara tersebut merupakan cara yang efektif untuk mengurangi pengeluaran sampah.

 

CATATAN DISKUSI

  1. Isu the commons yang di privatisasi merupakan hal yang menarik jika diamati saat ini. Manusia harus memahami apa yang dimaksud dengan the commons, namun kontradiksi dengan sikap manusia yang semakin memprivatisasi the commons menjadi privat.
  2. Sampah merupakan salah satu hasil privatisasi. Namun permasalahannya menjadi the commons, urusan bersama. Padahal seharusnya itu menjadi tanggung jawab privat.
  3. Sampah juga dapat menghasilkan commons goods, misalnya dengan profit yang dapat dinikmati secara langsung. Ini menarik, karena terdapat proses commoning kembali.
  4. Contoh upaya privatisasi lain adalah, perumahan yang menawarkan suasana yang hijau dan asri, padahal seharusnya suasana tersebut adalah hak bersama. Disisi lain, masyarakat disekitar perumahan tidak dapat merasakan suasana yang hijau dan asri. Salah satu perumahan tersebut adalah di Rancamaya, Sukabumi. Orang-orang kampung akhirnya masuk ke jalan-jalan perumahan untuk menikmati suasana hijau dan asri. Fenomena tersebut menunjukkan upaya privatisasi yang gagal.
  5. Upaya privatisasi merupakan permasalahan yang perlu diperhatikan. Jika hal ini berlangsung secara terus-menerus, akan menghilangkan unsur commons yang ada.
  6. Penerapan komunitas sebagai stakeholder yang berperan dalam solusi permasalahan urban commons sangat banyak. Ada berbagai orang yang melakukan hal yang sama di berbagai titik dengan inovasi yang berbeda tetapi memiliki visi kelingkungan yang sama. Pertanyaannya, bagaimana menyatukan solusi yang bertebaran tersebut. padahal, jika semua titik tersebut disatukan maka mereka bisa saling sharing terhadap hambatan yang ada.
  7. Jika berbicara tentang sampah dengan upaya penyelesaian dan pemberdayaannya, mengapa tidak muncul (tidak disorot) mengenai peran wanita dalam upaya tersebut. ketika sampah memiliki nilai ekonomi, selalu yang dikenalkan adalah peran laki-laki yang memberikan dampak. Wanita memberikan kontribusi yang besar ketika sampah diolah menjadi suatu kerajinan, urban farming, dan proses produksi lainnya.
  8. Mengelola urban commons dengan baik sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh semua merupakan suatu hal yang menggelitik. Contohnya adalah public space. Dulu, public space dapat digunakan sebagai tempat bermain, festival, jajan-jajanan. dan beraktivitas bersama lainnya. Namun, di ibu kota saat ini, jalanan bukan lagi sebagai commons. Aksesnya dibatasi, ukuran untuk pejalan kaki yang kecil, hingga pedagang yang tidak dapat sembarang berdagang. Hal tersebut mungkin terjadi karena pengelola jalan tersebut hanya berada di tataran pemerintah. Kita lupa bahwa harus dikelola bersama. Masyarakat, komunitas, dan lainnya. Pedagang kaki lima seharusnya punya hak akses untuk mendapat benefit. Pemerintah harus bisa menangkap itu, tidak hanya menyelamatkan ruang kosong untuk keindahan.
  9. Kota dalam perspektif umumnya selalu berpatokan pada Jakarta, megah dengan gedung tinggi dan berbagai pusat perbelanjaan. Hal ini yang akan menghilangkan the commons. Perlu ada diskusi lebih lanjut mengenai bagaimana seharusnya tata kota.
  10. Aspek yang perlu diperhatikan dalam the commons diantaranya adalah dongeng dan poster, masuknya informasi yang sangat minim seperti karakter masyarakat indonesia yang ramah tamah, persepsi terhadap sesuatu seperti sampah (seperti di inggris, pemerintah melakukan kebijakan jadwal pengeluaran sampah), dan yang terakhir adalah pelibatan semua unsur dalam menyelesaikan masalah seperti sampah ini.
  11. Adanya pergeseran etik saat ini adalah hal yang perlu diperhatikan. Misal kebanggan menggunakan the privat dibandingkan the commons, anak yang bangga menggunakan mobil mewah di jalan umum dibandingkan dengan berjalan di pedestrian.
  12. Generalisasi akan commons sebagai sumber daya yang berlebihan akan memunculkan hal tidak variatif. Karena setiap daerah memiliki penyikapan yang berbeda karena latar belakang sejarah dan budaya.
  13. Bicara sampah bukan hanya dari sisi mengelolanya, tetapi dari level konsumennya. Bagaimana akhirnya setiap individu melalui sikap tertentu dapat mengurangi pengeluaran sampahnya masing-masing. Contohnya adalah di daerah bintaro yang mendapat julukan kota terbersih karena sampahnya selalu diambil oleh tukang sampah, tetapi perilaku mereka tidak jauh dari kota terkotor, seorang arsitektur akhirnya melihat ini menjadi suatu permasalahan. Ia pun menginisiasi sebuah penerpaan gaya hidup konsumsi yang dapat mengurangi pengeluaran sampah bahkan hingga tataran tukang sayurnya.
  14. Pengelolaan commons dalam perkotaan harus mulai dari mana?apakah melalui publis space sebagai kebutuhan untuk mengekspresikan diri.

 

KESIMPULAN

  1. Manusia merupakan the commons sebagai sumberdaya. Upaya privatisasi the commons perlu mekanisme atau kebijakan khusus agar tidak semua sumberdaya bersama  diisolasi dari kehidupan bersama.
  2. Sains merupakan baseline dalam menentukan the commons. Misalnya bumi sebagai commons diantara makhluk yang hidup di dalamnya. Selanjutnya, ekonomi, sosial, dan politik yang menyikapi the commons.
  3. Sampah merupakan masalah the commons. Oleh karena itu, perlu dilakukan kolaborasi bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut.

 

Suasana diskusi
Suasana diksusi Urban Commons di Aula Ahmad Baehaqie, kantor P4W-LPPM-IPB, Baranangsiang-Bogor

 

LANGKAH KE DEPAN DAN REKOMENDASI

  1. Diperlukan keterlibatan seluruh pihak untuk menyelesaikan permasalahan the commons yang muncul di masyarakat, tidak cukup hanya pemerintah yang berperan karena sudut pandangnya hanya satu. Selain itu, pelibatan unsur lain akan lebih menjamin keberlanjutan dari solusi permasalahan tersebut.
  2. Pemunculan peran perempuan dalam penyelesaian suatu maslah urban commons, seperti sampah, perlu lebih diekspose lagi, karena peran perempuan sebagai perawat lingkungan sekitar begitu signifikan.
  3. Perlu adanya jaringan untuk menyatukan gerakan solusi-solusi kecil yang dilakukan komunitas di Indonesia.

Membuat Kompos dengan Metode Takakura

oleh:

Hilmiyah Tsabitah dan Parama Maharddhika

Pernah mendengar istilah Takakura? Bagi mereka yang akrab dengan aktivitas pengolahan sampah mungkin tidak asing lagi dengan kata ini. Takakura merupakan metode pengolahan sampah organik yang dipelopori oleh Koji Takakura, peneliti asal Jepang yang banyak melakukan pelatihan di Surabaya. Sejak 2004, metode ini mulai dikenal oleh masyarakat luas.

Metode Takakura mengandalkan fermentasi untuk mengurai. Karena menggunakan mikroba, sampah yang dihasilkan tidak mengeluarkan bau tengik. Guna mengedukasi masyarakat agar lebih mengenal metode tersebut, Parama Maharddhika dan Bayu Hermawan dari Perkumpulan Creata melakukan pelatihan di Perumahan Graha Cikarang, Jawa Barat pada Minggu, 6 Maret 2016. Berkolaborasi dengan Bank Sampah Olsamga pelatihan ini berhasil menjaring 30 perserta.

 

Suasana pelatihan yang dihadiri warga

Metode Takakura sebenarnya mudah diterapkan. Bahan yang dibutuhkan juga gampang diperoleh. Pertama adalah keranjang atau wadah yang berlubang. Ini berfungsi untuk menjaga sirkulasi udara pada kompos. Kedua, bantalan dari jaring plastik atau kain yang diisi sabut kelapa, sekam, atau kain perca. Ketiga, kardus pelapis untuk mengatur pelembapan kompos dan menjaga agar kompos tidak keluar dari ranjang. Keempat, pengaduk yang bisa dibuat dari pipa, kayu, atau besi. Terakhir adalah biang kompos berupa kompos setengah jadi yang mengandung mikroba.

 

Warga menyiapkan drum plastik atau bekas keranjang pakaian kotor. Drum plastik bekas dilubangi agar melancarkan sirkulasi udara

Metode Takakura di mulai dengan memasukkan biang kompos ke keranjang dengan tinggi 5 cm di atas permukaan bantalan alas. Selanjutnya, masukkan bahan-bahan kompos diatasnya. Bahan kompos ini terdiri dari sampah yang mengandung karbon (sampah coklat) sebagai sumber energi serta bahan yang mengandung mikroba dan nitrogen (sampah hijau).

Daftar sampah coklat yang bisa digunakan antara lain:

  1. Daun kering
  2. Rumput kering
  3. Serbuk gergaji
  4. Sekam padi
  5. Kertas
  6. Kulit jagung kering
  7. Jerami
  8. Tangkai Sayuran
Menyiapkan kardus sebagai pelembab yang akan mempercepat proses pengomposan

Adapun daftar sampah hijau antara lain:

  1. Sayuran
  2. Buah-buahan
  3. Potongan rumput segar
  4. Sampah dapur
  5. Bubuk teh atau kopi
  6. Kulit telur
  7. Pupuk kandang
  8. Kulit buah
Menyiapkan sisa potongan sayuran dan daun kering sebagai kompos

Proses pengomposan sebenarnya dapat dipercepat dengan menambahkan bekatul dan dedak untuk meningkatkan aktivitas mikroba. Proses pematangan akan berlangsung selama 7-10 hari. Sebelum sampah baru dimasukkan, adonan kompos yang lama diaduk terlebih dahulu untuk menjaga oksigen di bagian bawah. Setelah melewat proses tersebut, kompos harus diayak menggunakan ayakan kawat berukuran 0,5 cm. Kompos halus dapat digunakan sebagai pupuk, sedangkan kompos kasar dikembalikan ke dalam keranjang untuk digunakan sebagai biang kompos.

Media tanam dan pot dari sekitar kita

Metode pelatihan Takakura ini cukup mudah dilakukan oleh warga setempat karena peralatan dan bahan – bahannya sederhana dan mudah didapatkan. Namun, pada prakteknya diperlukan ketekunan oleh warga untuk terus melanjutkan pengomposan dengan metode ini. Rekomendasi agar kegiatan ini dapat terus berlangsung adalah pembuatan Takakura secara kelompok atau per-gang sehingga sampah yang terkumpul lebih banyak dan dapat saling mengingatkan antar satu dan lainnya.

Takakura-01 (A4)

Takakura-02

Pengelolaan TPA Bantar Gebang Masih Konvensional

BEKASI – Pengelolaan sampah di TPA Bantargebang pasca alih kelola dipertanyaan. Pasalnya, sampai kini tidak ada perubahan signifikan. “Baik pengelolaan maupun pemanfaatan sampah tidak menunjukkan perubahan,” kata Komarudin, anggota DPRD Kota Bekasi.

Disebutkan, teknologi ramah lingkungan yang digembor-gemborkan DKI selama ini tak terwujud di lapangan. Bahkan dalam hal pengelolaan sampah DKI masih mengandalkan metode pengelolaan sampah yang digunakan pengelola sebelumnya.

Model pengelolaan ini diakui Hari Nugroho, Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Menurutnya, pengelolaan sampah di TPST Bantargebang belum sepenuhnya normal karena keterbatasan alat berat.

Komarudin yang juga politisi Golkar ini, mendesak DKI harus secepatnya melakukan perubahan dalam mengelola TPST Bantargebang. Sebab bila berlarut-larut, maka kerusakan lingkungan semakim parah. Terlebih volume sampah yang dikirim ke TPST jumlahnya makin bertambah.

“Kalau tidak siap, ya serahkan saja ke swasta. Tapi yang professional. Jangan ada intrik politik di dalamnya. Kalau itu dilakukan DKI, saya yakin sampah TPST Bantargebang akan berkurang, karena dikelola dengan baik dan ada alat yang moderen serta ramah lingkungan,” jelas Komar.

Komar juga menyebut agar DKI harusnya membangun pabrik pengelolaan sampah sesuai jenisnya, seperti plastik, kayu, sisa sampah rumah tangga di area TPST Bantargebang. Masyarakat diberi kebebasan untuk mengelola sampah yang hasilnya dijual ke perusahaan bentukan DKI.

Diberitakan sebelumnya, warga di sekitar TPA Bantargebang mempertanyakan uang kompensasi. Mereka wanti-wanti agar paska swakelola ke DKI uang kompensasi tidak terganggu. (chotim)

Warga Cikarang Antusias Belajar Pengolahan Sampah

oleh:

Parama Mahardikka

BEKASI- Antusiasme warga Perumahan Graha Cikarang Bekasi untuk belajar mengolah sampah terlihat membuncah.

Ini terbukti dari diskusi yang diadakan oleh Creata pada Sabtu, 28 November 2015. Widhiyanto Muttaqien, Direktur Ekeskutif Creata, yang hadir sebagai narasumber melakukan aktivitas pemetaan sosial berupa demografi dan potensi yang dimiliki warga maupun lingkungannya. Adapun peserta dalam pelatihan ini merupakan warga RT 3 RW 17 Perumahan Graha Cikarang, Jawa Barat.

Warga melakukan pemetaan potensi wilayah
Warga melakukan pemetaan potensi wilayah

 

Proses konfirmasi rencana strategis warga
Proses konfirmasi rencana strategis warga terkait hasil perencanaan

Berbagai aktivitas pengolahan sampah dijajaki dalam kegiatan ini. Mulai dari rencana pemanfaatan sampah organik untuk kompos, pemanfaatan minyak jelantah, pemanfaatan sampah anorganik menjadi kerajinan, dan bisnis kambing.

“Program ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi warga, baik menjadikan lingkungan yang bersih dan sehat, maupun meningkatkan pendapatan warga,” ujar Widhi.

Fasilitas yang dimilki komunitas OLSMAGA
Fasilitas yang dimiliki komunitas OLSMAGA berupa mesin press sampah plastik

Selama ini warga telah melakukan kegiatan olah sampah, melalui Bank Sampah OLSMAGA, dan telah menghasilkan cash flow yang dijadikan modal untuk kegiatan sosial, seperti tambahan makanan sehat di Posyandu, pemeriksaan kesehatan gratis.

Perencanaan program yang dilakukan dalam diskusi ini ditanggapi warga secara positif, hal ini dapat dilihat pada persepsi mereka yang menganggap hal ini membawa keuntungan serta memungkinkan untuk dilakukan.

IMG_7339
Lahan kosong yang direncanakan warga sebagai pusat pengolahan silase (pakan ternak) dari pasar basah dekat kampung dan tempat penggemukan kambing.

 

Menuju Kota Bekasi Yang Berkelanjutan

oleh

Rakhmawati

 

Rangkaian Kegiatan Kampanye kota Bekasi Hijau dilaksanakan tanggal 24 Mei, 30-31 Mei, 1-2 Juni 2016. Di lima kecamatan yang berdampingan dengan kawasan industri Cikarang yaitu, kecamatan Cikarang Pusat, kecamatan Cikarang Utara, kecamatan Cikarang Barat, kecamatan Cikarang Timur dan kecamatan Cikarang Selatan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh BPLH Kabupaten Bekasi bekerja sama dengan seluruh kecamatan yang ada di Cikarang, dengan narasumber dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), BLHD Provinsi Jawa Barat dan Perkumpulan CREATA.

Peserta kegiatan terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, mulai Perangkat Kecamatan, Lurah dan BPD, Polsek, Perusahaan hingga Sekolah dan juga dihadiri oleh media lokal.

 

Imam Baehaqie Abdullah, memberikan konsep Bekasi Hijau sebagai konsep yang mudah dilakukan oleh warga.
Imam Baehaqie Abdullah, narasumber Creata, memberikan konsep Bekasi Hijau sebagai konsep yang mudah dilakukan oleh warga.

 

 

Peserta Sosialisasi Kabupaten Bekasi Berkelanjutan
Peserta Sosialisasi Kabupaten Bekasi Berkelanjutan

Tujuan dari rangkaian kegiatan ini, menurut Agus Dahlan selaku Kabid Rehabilitasi BPLH Kabupaten Bekasi adalah untuk mendorong kerjasama antara perusahaan dan masyarakat dalam pembentukan “Kampung Hijau”, yaitu daerah/wilayah yang peduli dengan lingkungan. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan Kabupaten Bekasi yang semakin memburuk dan tentunya berdampak buruk bagi manusia serta makhluk hidup lainnya.

Dengan banyaknya perusahaan yang berada di Kabupaten Bekasi, diharapkan juga ikut berperan dalam pembentukan Kampung Green and Clean (Kampung Hijau dan Bersih) melalui program CSR yang diawali dari tingkat RT/RW di kelima kecamatan yang berdampingan langsung dengan perusahaan.

Imam Baehaqie selaku narasumber dari CREATA menyampaikan materi tentang Konsep Green and Clean dengan ilustrasi keberhasilan kota Surabaya menjadi Kota hijau yang bersih, indah dan nyaman.

Penjabaran tentang Green Life Style/Gaya Hidup Hijau :

  • Green Buliding [Bangunan ramah lingkungan]

  • Green Open Space [Perwujudan Ruang Terbuka Hijau]

  • Green Community [peran aktif masyarakat membangung kota hijau]

  • Green Water [efisiensi pemanfaatan air]

  • Green Energy [sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan]

  • Green Waste [sampah menjadi ramah lingkungan]

  • Green Transportation [sistem transportasi ramah lingkungan]

 

Langkah selanjutnya setelah penyampaian materi, Imam Baehaqie beserta tim fasilitator dari CREATA mengajak peserta untuk mengidentifikasi wilayah yang hijau, kuning (kurang penghijauan, sedikit tercemar), dan merah (wilayah tercemar dan tidak ada penghijauan). Kegiatan identifikasi oleh peserta dilakukan dengan asumsi mereka lebih mengenal kondisi lingkungannya.

Rakhmawati, fasilitator Creata mengajak peserta untuk melakukan pemetaan wilayah dari yang terbersih sampai tercemar berat.
Rakhmawati, fasilitator Creata mengajak peserta untuk melakukan pemetaan wilayah dari yang terbersih sampai tercemar berat.

Sebagian besar peserta menyambut baik kegiatan ini dan besar harapannya benar – benar terlaksana, jadi bukan diberikan sosialisasi berupa teori saja, melainkan benar- benar membentuk wilayah/lingkungan hijau yang dilakukan dengan adanya kerja sama yang baik antara masyarakat dengan pemerintahan.

Kegiatan seperti ini merupakan langkah nyata yang perlu di apresiasi oleh semua kalangan untuk mewujudkan bumi yang sehat, bersih dan hijau.

 

 

Hasil pemetaan tingkat pencemaran di Kecamatan Cikarang Pusat
Hasil pemetaan tingkat pencemaran di Kecamatan Cikarang Pusat
Hasil pemetaan tingkat pencemaran di Kecamatan Cikarang Utara
Hasil pemetaan tingkat pencemaran di Kecamatan Cikarang Utara
IMG_0271
Hasil pemetaan tingkat pencemaran di Kecamatan Cikarang Barat

 

Menumbuhkan Generasi Hijau di Kabupaten Cikarang

oleh:

Parama Maharddhika

 

Workshop ini adalah bentuk edukasi Creata kepada masyarakat, khususnya remaja untuk dapat mengenal potensi positif pada diri dan lingkungannya yang kemudian diarahkan untuk peduli terhadap lingkungannya. Workshop peningkatan kapasitas diri ini dilaksanakan di Perumahan Graha Cikarang pada hari Sabtu tanggal 12 September 2015 yang diselenggarakan oleh CREATA dengan Narasumber Bayu Hermawan dan Parama Maharddhika. Peserta dalam pelatihan ini merupakan warga remaja RT 3 RW 17 Perumahan Graha Cikarang, Jawa Barat.

 

Pleatihan Cikarang1
Bayu Hermawan menjadi fasilitator utama, mengenalkan konsep lingkungan hidup di tingkat RT/RW

 

Proses workshop ini berjalan dengan baik, hal ini dapat dilihat dengan rasa ingin tahu dan berbagai respon positif yang diutarakan remaja. Aktivitas ini dimulai dengan pengenalan diri remaja terhadap sisi positif dan negatif yang dimilikinya. Dari pengenalan potensi positif yang ada, kemudian dilakukan games untuk dapat meningkatkan kepercayaan diri para partisipan yang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video yang berkonten motivasi untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah. Pada sesi penutupan workshop, para remaja diajak untuk lebih mencintai lingkungan, khususnya disekitar tempat tinggalnya dengan potensi positif yang mereka miliki.

 

pelatihan Cikarang
Pelatihan Konsep Diri dan Lingkungan untuk Kalangan Remaja

Workshop peningkatan kapasitas diri remaja di perumahan Graha Cikarang, Jawa Barat ini dilakukan secara menyenangkan, hal ini dilakukan agar remaja menerima materi secara positif dan diharapkan dapat diterapkan baik untuk diri sendiri, orang lain, dan lingkungan tempat tinggalnya.  Rencana aksi yang kemudian diterapkan dalam sebuah kegiatan terkait kepedulian lingkungan. Kegiatan yang akan dilakukan dapat disesuaikan dengan kegiatan kepedulian lingkungan yang sebelumnya sudah dilakukan para warga dewasa (orang tua).

 

Pelatihan Cikarang3
Pendekatan permainan dalam pelatihan kepada anak dan remaja. Rama bertindak sebagai fasilitator yang memiliki banyak gim yang bisa diaplikasikan dalam pelatihan.

Masuk


Username
Create an Account!
Password
Forgot Password? (close)

Daftar


Username
Email
Password
Confirm Password
Want to Login? (close)

Lupa Pasword?


Username or Email
(close)